Jumat, 06 Juli 2018

Kajian Hadits Ikaba 162-170

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 163 :*

*عَنْ عَلِيِّ بْنِ طَلْقٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا فَسَا أَحَدُكُمْ فِي اَلصَّلَاةِ فَلْيَنْصَرِفْ  وَلْيَتَوَضَّأْ  وَلْيُعِدْ اَلصَّلَاةَ)  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ  وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ*

Dari Ali Ibnu Abu Thalib Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: *Apabila seseorang di antara kamu kentut dalam sholat maka hendaknya ia membatalkan sholat berwudlu dan mengulangi sholatnya.* Riwayat Imam Lima. Shahih menurut Ibnu Hibban.

*MAKNA HADITS :*

```sesuatu yang keluar dari salah satu dua kemaluan adalah membatalkan wuduk. Ini merupakan ijmak ulama. Oleh karena itu, sholat pun menjadi batal karenanya.```

*FIQH HADITS :*

1. Keluar angin dari dubur membatalkan wuduk dan kemudian diqiaskan kepadanya segala yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur).

2. Sholat batal disebabkan  keluarnya angin (hadas) dan wajib mengulangi lagi sholatnya.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
[19/6 2:03 AM] Musthofa AB: *السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 164 :*

*وَعَنْ عَائِشَةَ عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا يَقْبَلُ اَللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلَّا بِخِمَارٍ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيُّ  وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ* 

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: *Allah tidak akan menerima sholat seorang perempuan yang telah haid (telah baligh kecuali dengan memakai kerudung.* Riwayat Imam Lima kecuali Nasa'i dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.

*MAKNA HADITS :*

```Rasulullah (s.a.w) menjelaskan seorang wanita mengerjakan sholat mestilah menutup kepala, leher dan seluruh tubuhnya, kerana semua itu merupakan aurat
baginya. Jika dia mengerjakan sholat dalam keadaan tubuh terbuka, maka sholatnya batal (tidak sah). Inilah yang dimaksudkan dengan sabda Rasulullah (s.a.w): “Allah
tidak akan menerima solatnya” dalam hadis di atas.

Maksud haid di sini bukanlah makna yang sebenarnya, sebab wanita yang sedang haid jelas tidak dibolehkan sholat. Maksudnya ialah ungkapan al-mubalaghah,
kerana haid merupakan salah satu bukti seorang wanita itu telah berusia baligh.```

*FIQH HADITS :*

1. Wanita ketika mengerjakan sholat wajib menutup kepala, leher dan seluruh anggota tubuhnya yang lain sejauh yang terjangkau oleh kerudung.

2. Antara wanita merdeka dengan wanita sahaya wujud persamaan dimana mereka sama-sama diwajibkan menutup aurat ketika dalam sholat berdasarkan
perkataan haid yang bersifat umum di dalam hadis itu.

3. Jumhur ulama membedakan antara aurat wanita merdeka dengan wanita sahaya dimana aurat wanita sahaya adalah dari pusat hingga kedua lutut dan
ini berlaku di luar sholat.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..

https://ikaba.net/kajian-hadits-ibanah-al-ahkam-kitab-shalat/
[21/6 12:08 AM] Musthofa AB: *السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 165 :*

*وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَهُ ( إِنْ كَانَ اَلثَّوْبُ وَاسِعًا فَالْتَحِفْ بِهِ )  - يَعْنِي فِي الصَّلَاةِ - وَلِمُسْلِمٍ ( فَخَالِفْ بَيْنَ طَرَفَيْهِ - وَإِنْ كَانَ ضَيِّقًا فَاتَّزِرْ بِهِ  ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ*

Dari Jabir Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: *Apabila kain itu lebar maka berkudunglah dengannya -yakni dalam sholat.- Menurut riwayat Muslim: Maka selempangkanlah di antara dua ujungnya dan apabila sempit maka bersarunglah dengannya.* Muttafaq Alaihi.

*MAKNA HADITS :*

```Hukum menutup aurat di dalam sholat adalah wajib. Diperbolehkan sholat dengan memakai sehelai kain dan seseorang tidak disyaratkan memakai dua helai kain (pakaian) ketika mengerjakan sholat. Ini merupakan salah satu kemudahan dalam Islam. Namun apabila kain yang dipakai itu sempit (tidak lebar), maka hendaklah seseorang yang memakainya menjadikannya sebagai kain sarung untuk menutup auratnya dan aurat lelaki itu ialah antara pusat hingga kedua lutut. Jika kain itu lebar, maka hendaklah dia melipat kedua tepinya secara bersilang untuk menutup bagian atas tubuh.```

*FIQH HADITS :*

Boleh mengerjakan sholat dengan memakai sehelai kain. Jika kain tersebut lebar, maka selebihnya hendaklah dilipat ke atas bagian tubuh secara bersilang pada
kedua ujungnya sesudah bersarung dengannya. Apabila kain itu sempit (tidak lebar), maka cukuplah dipakai untuk bersarung agar menutupi auratnya.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
[21/6 12:18 AM] Musthofa AB: *السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 166 :*

*وَلَهُمَا مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( لَا يُصَلِّي أَحَدُكُمْ فِي اَلثَّوْبِ اَلْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنْهُ شَيْءٌ )*

Menurut riwayat Bukhari-Muslim dari hadits Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu beliau bersabda: *Janganlah seseorang di antara kamu sholat dengan memakai selembar kain yang sebagian dari kain itu tidak dapat ditaruh di atas bahunya.*

*MAKNA HADITS :*

```Menutup bagian atas tubuh dalam sholat, sekalipun tidak termasuk aurat, merupakan salah satu sikap untuk mengagungkan dan memuliakan Allah. Barang
siapa mengerjakan sholat dengan bagian atas tubuh dibiarkan terbuka, maka sholatnya tetap sah, walaupun dimakruhkan. Inilah pendapat jumhur ulama. Dalam
kaitan ini, Imam Ahmad memiliki dua pendapat. Riwayat paling kuat adalah pendapat yang mengatakan sah dan larangan ini menunjukkan hukum makruh, bukan hukum haram.```

*FIQH HADITS :*

Dilarang sholat memakai kain sekiranya pada bagian bahu seseorang itu tidak ada yang menutupi.

Imam al-Syafi'i, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan, larangan ini menunjukkan hukum makruh. Mereka mengemukakan
dalil untuk memperkuat pendapatnya dengan hadis Jabir no. 165 di atas. Jika seseorang mengerjakan solat dengan hanya memakai kain yang menutup auratnya saja tanpa mengenakan sehelai kain pun pada bahunya, maka solatnya tetap sah, tetapi itu makruh, baik dia mampu memakaikan kain pada bahunya ataupun tidak.

Imam Ahmad mengatakan, solat seseorang itu tidak sah jika dia mampu memakaikan sehelai kain pada bahunya, kerana berlandaskan kepada makna dzahir hadis di atas. Sedangkan riwayat lain menurut Imam Ahmad mengatakan, sholat seseorang itu tetap sah, tetapi dia berdosa  karena enggan memakai kain
pada bagian bahunya.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
[22/6 12:33 PM] Musthofa AB: *السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 167 :*

*وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- ; أَنَّهَا سَأَلَتْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ( أَتُصَلِّي اَلْمَرْأَةُ فِي دِرْعٍ وَخِمَارٍ  بِغَيْرِ إِزَارٍ ؟ قَالَ : إِذَا كَانَ اَلدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُورَ قَدَمَيْهَا )  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَ اَلْأَئِمَّةُ وَقْفَهُ*

Dari Ummu Salamah Radliyallaahu 'anhu bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam: *Bolehkah seorang perempuan sholat dengan memakai baju panjang dan kerudung tanpa sarung؟ Beliau bersabda: Boleh apabila baju panjang itu lebar menutupi punggung atas kedua kakinya.* Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Para Imam Hadits menilainya mauquf.

*MAKNA HADITS :*

```Aurat perempuan dalam sholat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Adapun dalam masalah ini ulama masih berselisih pendapat
sebagaimana yang akan dibahas secara terperinci dalam fiqh hadis berikut ini.```

*FIQH HADITS :*

Wanita wajib menutup seluruh anggota tubuhnya hinggga bagian luar telapak kakinya. Inilah pendapat mazhab al-Syafi'i dan mazhab Hanbali dan dalilnya
adalah hadis di atas. Jika seorang wanita solat dengan telapak kaki dalam keadaan terbuka atau ada sebagian anggota tubuhnya yang terlihat selain wajah dan kedua telapak tangan, maka dia wajib mengulangi semula sholatnya.

Mazhab Maliki berpendapat, wanita wajib menutup seluruh anggota tubuhnya selain bagian dalam telapak tangan dan kaki serta jari-jemari kedua tangan dan kedua telapak kaki. Oleh sebab itu, tidak disyariatkan menutup keduanya itu. Dengan demikian, sholatnya sah, meskipun itu makruh.

Imam Abu Hanifah dan Imam Muhammad mengatakan, wajib menutup seluruh anggota tubuh kecuali wajah, kedua telapak tangan dan kedua telapak
kaki. Kedua imam ini mengatakan, dimaafkan terbuka anggota tubuh yang kurang dari satu perempat betis, rambut, paha dan perut.

Sedangkan menurut Abu Yusuf, dimaafkan terbuka anggota tubuh yang kurang dari separuh dan dalam masalah anggota tubuh yang terbuka separuh ini ada dua riwayat yang bersumber
darinya.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
[24/6 5:13 AM] Musthofa AB: *السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 168 :*

*وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( كُنَّا مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي لَيْلَةٍ مَظْلَمَةٍ  فَأَشْكَلَتْ عَلَيْنَا اَلْقِبْلَةُ  فَصَلَّيْنَا . فَلَمَّا طَلَعَتِ اَلشَّمْسُ إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا إِلَى غَيْرِ اَلْقِبْلَةِ  فَنَزَلَتْ : (فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اَللَّهِ ) )  أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَهُ*

Amir Ibnu Rabi'ah Radliyallaahu 'anhu berkata: *Kami pernah bersama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam suatu malam yang gelap maka kami kesulitan menentukan arah kiblat lalu kami sholat. Ketika matahari terbit ternyata kami telah sholat ke arah yang bukan kiblat maka turunlah ayat (Kemana saja kamu menghadap maka disanalah wajah Allah).* Riwayat Tirmidzi. Hadits lemah menurutnya.

*MAKNA HADITS :*

```Allah (s.w.t) menyuruh hamba-hamba-Nya menghadap kiblat ketika mengerjakannya di tempat bermukim. Untuk itu Allah (s.w.t) berfirman:

فول وجهك شطر المسجد الحرام

“...Hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram....” (Surah al-Baqarah: 144).

Demikian pula semasa dalam perjalanan. Hal ini dijelaskan melalui firman-Nya:

فولوا وجوهكم شطره

“... Dan di mana saja kalian berada, palingkanlah mukamu ke arahnya....” (Surah
al-Baqarah: 144)

Namun, barang siapa yang merasa kebingungan dalam menentukan arah kiblat karena gelap, mendung atau faktor lain, maka dia wajib memperhatikan tanda-tanda yang ada di sekelilingnya dan menelitinya, kemudian solatlah dengan menghadap ke arah yang dia yakini sebagai arah kiblat. Jika kesalahan tersebut diketahui ketika masih dalam waktu solat, maka dia wajib mengulang lagi solatnya. Tetapi jika waktu solat telah lewat, maka tidak wajib baginya mengulang solat itu. Jika seseorang solat tanpa berusaha mengenal pasti terlebih dahulu arah kiblat dan ternyata dia salah dalam menentukannya, maka secara mutlak solatnya wajib diulang, baik waktu solat masih ada ataupun sebaliknya. Hadis ini berstatus dha'if; tidak dapat dijadikan sebagai hujah.```

*FIQH HADITS :*

Sah sholat seseorang yang tidak menghadap ke arah kiblat karena gelapnya malam atau mendung yang menjadikan cuaca gelap setelah dia berusaha karena untuk
mengenal pasti mengenainya. Jika setelah itu diketahui seseorang itu solat dalam keadaan tidak menghadap arah kiblat melainkan ke arah yang lain, maka
solatnya tetap sah. Inilah pendapat Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berlandaskan kepada hadis ini.

Namun Imam Malik mengatakan, orang itu disunatkan mengulangi sholatnya selagi waktunya masih ada jika ternyata dia telah membelakangi kiblat atau menghadap ke arah timur atau ke arah barat, meskipun dia telah berusaha keras untuk mengenal pasti arah kiblat itu.

Imam Malik mengemukakan alasan untuk mendukung pendapatnya bahwa disunatkan mengulangi sholat bagi seorang yang mengerjakannya secara sendirian, kerana setelah itu dia menjumpai orang lain yang mengerjakannya dalam keadaan berjemaah dan sholat itu dikerjakan dalam waktunya. Jadi, dalam keadaan ini dia disunatkan mengulangi sholatnya berjamaah bersama mereka. Imam Malik berkata:
“Jika seseorang itu miring sedikit ke kiri arah kiblat atau sedikit miring ke arah kanan kiblat, maka dia tidak perlu mengulangi sholatnya lagi, baik waktu
sholat masih ada atau sebaliknya.”

Imam al-Syafi'i berkata: “Jika seseorang yang miring ke arah kiri kiblat atau sedikit miring ke arah kanan kiblat, maka sholat itu tidak sah baginya, kerana kiblat
merupakan salah satu syarat sahnya sholat.”

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
[25/6 3:18 PM] Musthofa AB: *السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 169 :*

*وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَا بَيْنَ اَلْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ )  رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ  وَقَوَّاهُ اَلْبُخَارِيُّ*

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: *Ruang antara Timur dan Barat adalah Kiblat.* Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dikuatkan oleh Bukhari.

*MAKNA HADITS :*

```Setelah Nabi (s.a.w) tinggal di Madinah, baginda ingin menjelaskan kepada masyarakat Madinah tentang arah kiblat mereka yang terletak di antara arah timur dan arah barat. Untuk itu, baginda bersabda:

مَا بَيْنَ اَلْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

“Di antara arah timur dan arah barat terdapat arah kiblat.”
Hadis ini tidak bersifat umum yang berlaku bagi setiap daerah, kerana
adakalanya arah kiblat bagi suatu daerah ke arah timur atau malah ke arah barat.
Hal ini sebagaimana yang telah baginda sabdakan mengenai keadaan ahli Madinah berkenaan dengan menghadap dan membelakangi kiblat bagi orang yang menunaikan hajat:

ولكن شرقوا وغربوا

“Tetapi menghadaplah kamu ke arah timur atau ke arah barat!”```

*FIQH HADITS :*

1. Arah kiblat bagi penduduk Madinah dan sekitarnya terletak di tengah-tengah antara arah timur dan arah barat.

2. Orang yang melihat secara langsung kiblat wajib menghadap ke arah kiblat, karena dia mampu berbuat demikian. Bagi orang yang tinggal berjauhan dengan Ka'bah juga wajib menghadap ke arahnya, kerana sukar bagi mereka untuk dapat menghadap ke arah 'ain kiblat secara tepat.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
[27/6 5:27 AM] Musthofa AB: *السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 170 :*

*وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ زَادَ اَلْبُخَارِيُّ  ( يُومِئُ بِرَأْسِهِ  وَلَمْ يَكُنْ يَصْنَعُهُ فِي اَلْمَكْتُوبَةِ )*

*وَلِأَبِي دَاوُدَ : مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ : ( كَانَ إِذَا سَافَرَ فَأَرَادَ أَنْ يَتَطَوَّعَ اِسْتَقْبَلَ بِنَاقَتِهِ اَلْقِبْلَةِ  فَكَبَّرَ  ثُمَّ صَلَّى حَيْثُ كَانَ وَجْهَ رِكَابِهِ )  وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ*

Amir Ibnu Rabi'ah Radliyallaahu 'anhu berkata: *Aku melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sholat di atas kendaraannya ke arah mana saja kendaraan itu menghadap.* Muttafaq Alaihi. Bukhari menambahkan: *Beliau memberi isyarat dengan kepalanya namun beliau tidak melakukannya untuk sholat wajib.*

Dalam riwayat Abu Dawud dari hadits Anas Radliyallaahu 'anhu : *Apabila beliau bepergian kemudian ingin sholat sunat maka beliau menghadapkan unta kendaraannya ke arah kiblat. Beliau takbir kemudian sholat menghadap ke arah mana saja kendaraannya menghadap.* Sanadnya hasan.

*MAKNA HADITS :*

```Menghadap ke arah kiblat merupakan salah satu syarat bagi sahnya sholat. Namun Allah (s.w.t) memberikan rukhsah dalam sholat sunat ketika dalam perjalanan, baik bagi mereka yang berjalan kaki maupun yang berkenderaan. Orang yang berkenderaan diperbolehkan sholat menghadap ke arah mana kenderaan itu mengarah atau menghadap dengan syarat tertentu yang telah disebutkan di dalam kitab fiqh secara terperinci. Dalam kaitan ini turunlah firman Allah (s.w.t):

فأينما تولوا فثم وجه الله (١١٥)

“... Ke arah mana pun kalian, menghadap, maka di situlah wajah Allah...” (Surah al-Baqarah: 115)

Nabi (s.a.w) pernah mengerjakan sholat sunat di atas kenderaannya ketika baginda kembali dari Mekah menuju Madinah setelah mengerjakan haji wada‟.
Sedangkan syarat sholat fardu adalah menghadap ke arah kiblat.```

*FIQH HADITS :*

1. Sah mengerjakan sholat sunat di atas kendaraan, sekalipun tidak menghadap ke arah kiblat, karena arah di dalam perjalanan sudah dianggap sebagai kiblat baginya dan ini merupakan rukhsah (kemurahan) dari Allah (s.w.t).

2. Sholat fardu tidak boleh dikerjakan di atas kendaraan karena menghadap kiblat tidak dapat dilakukan dengan sempurna.

3. Seorang yang musafir boleh mengerjakan sholat sunat di atas kendaraan dan disyariatkan menghadap kiblat ketika melakukan takbiratul ihram saja.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar