Selasa, 24 Juli 2018

Kajian Hadits Ikaba 181-190

*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 181 :*

*وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-]قَالَ] : ( قُلْتُ لِبِلَالٍ : كَيْفَ رَأَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَرُدَّ عَلَيْهِمْ حِينَ يُسَلِّمُونَ عَلَيْهِ  وَهُوَ يُصَلِّي ؟ قَالَ : يَقُولُ هَكَذَا  وَبَسَطَ كَفَّهُ )  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ  وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ* 

Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: *Aku bertanya pada Bilal: Bagaimana engkau melihat cara Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menjawab salam mereka ketika beliau sedang sholat؟ Bilal menjawab: Begini. Dia membuka telapak tangannya.* Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi.

*MAKNA HADITS :*

```Sahabat sentiasa memperhatikan semua gerak-gerik Rasulullah (s.a.w). Seorang sahabat yang memiliki kedudukan tinggi tidak segan selalu menanyakan suatu perkara yang pernah dilakukan oleh baginda. Ini karena tidak ada keutamaan bagi
orang Arab ke atas orang bukan Arab selain dengan taqwa. Inilah Ibn Umar. Meskipun memiliki keilmuan luar biasa, beliau tidak segan selalu bertanya kepada
Bilal mengenai cara Rasulullah (s.a.w) menjawab salam orang Ansor ketika mereka menjumpainya sedang shalat di dalam Masjid Quba'. Bilal memberikan keterangan
kepadanya bahwa Nabi (s.a.w) menjawab salam kepada mereka melalui isyarat dengan kedua telapak tangannya, bagian dalamnya dibalikkan, sedangkan
bagian luarnya berada di atas tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, sebab mengeluarkan ucapan dalam shalat bisa membatalkan shalat.```

*FIQH HADITS :*

1. Boleh mengucapkan salam kepada orang yang sedang shalat.

2. Cara memberi isyarat bagi orang yang sedang shalat untuk menjawab orang yang mengucapkan salam kepadanya dengan isyarat telapak tangan dimana bagian dalamnya diletakkan di bawah, sedangkan bagian luarnya pula diletakkan di atas.

3. Sahabat sentiasa mengambil berat untuk mengetahui segala perbuatan Rasulullah (s.a.w) dan mengikuti semua gerak-geriknya untuk kemudian dijadikan teladan.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 182 :*

*وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتِ زَيْنَبَ  فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا  وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِمُسْلِمٍ : ( وَهُوَ يَؤُمُّ اَلنَّاسَ فِي اَلْمَسْجِدِ)*

Abu Qotadah Radliyallaahu 'anhu berkata: *Pernah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sholat sambil menggendong Umamah putri Zainab. Jika beliau sujud beliau meletakkannya dan jika beliau berdiri beliau menggendongnya.* Muttafaq Alaihi. Dalam riwayat Muslim: *Sedang beliau mengimami orang.*

*MAKNA HADITS :*

```Akhlak Rasulullah (s.a.w) sungguh mulia, berbelas kasihan, kerap menggendong anak-anak dan gemar menyantuni fakir miskin. Baginda pernah menggendong cucu perempuannya ketika sedang mengerjakan shalat. Itu baginda lakukan untuk
menjelaskan kepada para sahabat bahwa pakaian dan tubuh anak-anak itu suci.

Anak-anak tidak dilarang masuk ke masjid selagi kehadiran mereka tidak mengganggu orang yang sedang shalat. Itu sekaligus sebagai tantangan terhadap
tradisi Jahiliah yang membenci anak-anak perempuan, hingga kebencian itu sampai mendorong mereka menguburkan anak perempuan dalam keadaan
hidup-hidup.```

*FIQH HADITS :*

1. Rasulullah (s.a.w) bersikap rendah hati terhadap anak-anak dan semua orang dhu'afa dengan bersikap lemah lembut dan kasih sayang kepada mereka.

2. Anak-anak diperbolehkan masuk ke dalam masjid, tetapi dengan syarat hendaklah mereka tidak mengganggu orang yang sedang shalat dan tidak mengotori
masjid.

3. Boleh menggendong anak-anak ketika dalam shalat.

4. Pakaian dan tubuh anak-anak itu suci selagi tidak ada najis padanya.

5. Gerakan yang sedikit dalam shalat tidak membatalkannya.

6. Melakukan gerakan dalam shalat secara tidak berterusan tidak membatalkan shalat.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 183 :*

*وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اُقْتُلُوا اَلْأَسْوَدَيْنِ فِي اَلصَّلَاةِ : اَلْحَيَّةَ وَالْعَقْرَبَ )  أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ  وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ* 

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: *Bunuhlah dua binatang hitam dalam sholat yaitu ular dan kalajengking.* Dikeluarkan oleh Imam Empat dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban.

*MAKNA HADITS :*

```Ular adalah musuh manusia, begitu pula kalajengking yang ekornya mengandung racun. Binatang berbisa ini tidak segan-segan menyerang manusia melalui gigitan dan sengatannya, meskipun manusia sedang mengerjakan shalat. Oleh sebab itu, dua jenis binatang ini mesti dibunuh, sekalipun orang yang melakukannya sedang
mengerjakan shalat. Semoga Allah memelihara kita dari gangguan musuh dan menjaga diri kita dari kejahatan segala penyakit.```

*FIQH HADITS :*

1. Dituntut menolak bahaya yang akan menimpa diri seseorang, sekalipun sedang mengerjakan shalat.

2. Boleh melakukan banyak gerakan dalam shalat apabila keadaan merbahaya.

3. Boleh membunuh ular dan kalajengking ketika dalam shalat tanpa adanya hukum makruh baik tindakan membunuhnya memerlukan satu kali pukulan ataupun lebih banyak lagi. Inilah pendapat mazhab Hanafi.

Sedangkan menurut mazhab Maliki, makruh membunuhnya apabila kedua hewan tersebut tidak mengganggu orang sedang yang mengerjakan shalat. Bagi mereka, boleh membunuhnya apabila kedua hewan hendak menyerang orang yang shalat
tanpa adanya makruh lagi.

Menurut zahir pendapat mazhab Hanbali, tidak ada perbedaan dimana seseorang yang sedang shalat boleh membunuh kedua jenis hewan itu baik melakukan sedikit gerakan ataupun terpaksa
melakukan banyak gerakan. Dengan arti kata lain, shalat orang yang berbuat demikian tidak batal.

Mazhab al-Syafi'i mengatakan bahwa apabila diperlukan
gerakan yang banyak untuk membunuhnya, maka shalat seseorang menjadi batal. Tetapi jika tidak memerlukan banyak gerakan, maka tidak batal shalatnya.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB MEMBUAT PEMBATAS BAGI ORANG SHALAT*_

*HADITS KE 184 :*

*عَنْ أَبِي جُهَيْمِ بْنِ اَلْحَارِثِ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَوْ يَعْلَمُ اَلْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ اَلْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ مِنْ اَلْإِثْمِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ  وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ وَوَقَعَ فِي اَلْبَزَّارِ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ : ( أَرْبَعِينَ خَرِيفًا )*

Dari Abu Juhaim Ibnul Harits Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: *Seandainya orang yang lewat di depan orang yang sholat mengetahui dosa yang akan dipikulnya maka ia lebih baik berdiri empat puluh hari daripada harus lewat di depannya.* Muttafaq Alaihi dalam lafadznya menurut Bukhari. Menurut riwayat Al-Bazzar dari jalan lain: *(lebih baik berdiri) Empat puluh tahun.*

*MAKNA HADITS :*

```Untuk memastikan kesinambungan khusyuk di dalam shalat dan untuk menghormati
keadaan seseorang yang sedang berdiri di hadapan Allah, maka Islam menjadikan batasan tertentu untuk mengerjakan shalat, yaitu mulai dari tempat dia berdiri
hingga tempat dia bersujud. Rasulullah (s.a.w) mengingatkan seseorang supaya sekali-kali tidak lewat di hadapan orang yang sedang shalat, karena perbuatan itu melanggar kesucian shalat. Baginda mengingatkan dengan siksaan yang pedih hingga lebih baik berdiri menunggu orang yang shalat selesai shalatnya, sekalipun
memakan waktu empat puluh hari, bahkan empat puluh bulan hingga empat puluh tahun. Betapa ringan siksaan dunia betapapun beratnya jika dibandingkan dengan azab akhirat meskipun hanya dalam waktu yang singkat.```

*FIQH HADITS :*

1. Menghormati tempat berdiri untuk mengerjakan shalat.

2. Menerangkan adanya larangan dan ancaman siksa bagi orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat. Termasuk ke dalam perbuatan ini adalah setiap perbuatan yang mengganggu orang yang sedang shalat.

3. Tidak boleh memandang remeh sesuatu yang dilarang oleh syariat betapapun kecilnya.

4. Disyariatkan menanggung bahaya yang paling ringan di antara dua perkara yang sama-sama berbahaya.

5. Siksaan atas suatu pelanggaran adalah berdasarkan sejauh mana hukum yang berkaitan dengannya telah diketahui dan dilanggar.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB MEMBUAT PEMBATAS BAGI ORANG SHALAT*_

*HADITS KE 185 :*

*وَعَنْ عَائِشَةَ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : ( سُئِلَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم - فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ - عَنْ سُتْرَةِ اَلْمُصَلِّي فَقَالَ : مِثْلُ مُؤْخِرَةِ اَلرَّحْلِ )  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah ditanya pada waktu perang Tabuk tentang batas bagi orang yang sholat. Beliau menjawab: Seperti tiang di bagian belakang kendaraan. Dikeluarkan oleh Muslim.

*MAKNA HADITS :*

```Oleh kerana khusyuk di dalam shalat merupakan ruh shalat, sedangkan menundukkan pandangan mata antara faktor yang boleh membantu untuk
merealisasikan kekhusyuan itu, maka Rasulullah (s.a.w) melarang seseorang lewat di depan orang yang sedang shalat. Baginda mensyariatkan membuat penghalang atau pembatas di hadapannya yang tingginya kira-kira dua pertiga hasta untuk
mencegah orang yang akan lewat, menghindari gangguan orang lain dan merealisasikan kekhusyuan yang merupakan inti dari shalat.

Ini dilakukan apabila tempat shalat tersebut tidak berada dalam keadaan daruat. Jika dalam keadaan darurat, maka Rasulullah (s.a.w) memberikan rukhsah untuk
lewat di hadapan orang yang sedang shalat.```

*FIQH HADITS :*

Seseorang yang hendak mengerjakan shalat disunatkan membuat pembatas untuk
mencegah pandangan mata melihat objek di balik pembatas tersebut dan mencegah orang yang akan lewat di hadapannya. Untuk membuat itu, cukup dengan meletakkan sesuatu objek yang tingginya dua pertiga hasta seperti bagian belakang pelana unta.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB MEMBUAT PEMBATAS BAGI ORANG SHALAT*_

*HADITS KE 186 :*

*وَعَنْ سَبْرَةَ بْنِ مَعْبَدٍ اَلْجُهَنِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لِيَسْتَتِرْ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ وَلَوْ بِسَهْمٍ )  أَخْرَجَهُ اَلْحَاكِمُ* 

Dari Sabrah Ibnu Ma'bad al-Juhany bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: *Hendaknya seseorang di antara kamu membuat batas pada waktu sholat walaupun hanya dengan anak panah.* Dikeluarkan oleh Hakim.

*MAKNA HADITS :*

```Oleh karena tujuan utama meletakkan pembatas ini untuk mencegah supaya orang
lain tidak lewat di hadapan orang yang sedang shalat, maka syariat Islam sama sekali tidak bermaksud menyusahkannya seperti meletakkan objek tertentu yang ukuran dan spesifikasi tertentu. Dalam hal itu, syariat Islam memperbolehkan menjadikan
pembatas ini hanya dengan sebatang anak panah, seperti bagian belakang pelana unta. Tetapi yang lebih utama ialah hendaklah pembatas tersebut diletakkan di sebelah kanan mengingat sebelah kanan itu mesti dimuliakan.```

*FIQH HADITS :*

Disyariatkan membuat pembatas untuk shalat. Ulama berbeda pendapat mengenai ukuran lebar dan ketinggiannya.

Imam Malik mengatakan bahwa batasan minimum pembatas tersebut ialah setebal tombak dan setinggi satu hasta. Jika kurang dari itu, maka dia tidak
memperoleh pahala Sunnah.

Imam al-Nawawi, salah seorang pengikut mazhab al-Syafi'i, berkata:
“Hendaklah panjang pembatas itu sama dengan bagian belakang pelana unta.
Tidak ada ketentuan lebar dan ukuran tertentu bagi pembatas ini. yang penting adanya pembatas ketika sedang mengerjakan shalat.”

Imam Abu Hanifah berkata: “Ketebalan pembatas hendaklah sama dengan tebal jari tangan dan ketinggiannya hendaklah satu hasta.”

Imam Ahmad berkata:
“Sudah mencukupi hanya dengan sebuah anak panah.”

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB MEMBUAT PEMBATAS BAGI ORANG SHALAT*_

*HADITS KE 187 :*

*وَعَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَقْطَعُ صَلَاةَ اَلْمَرْءِ اَلْمُسْلِمِ - إِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ مُؤْخِرَةِ اَلرَّحْلِ - اَلْمَرْأَةُ  وَالْحِمَارُ  وَالْكَلْبُ اَلْأَسْوَدُ  اَلْحَدِيثَ )  وَفِيهِ ( اَلْكَلْبُ اَلْأَسْوَدِ شَيْطَانٌ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ*

*وَلَهُ : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه نَحْوُهُ دُونَ : اَلْكَلْبِ*

*وَلِأَبِي دَاوُدَ  وَالنَّسَائِيِّ : عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- نَحْوُهُ  دُونَ آخِرِهِ وَقَيَّدَ اَلْمَرْأَةَ بِالْحَائِضِ* 

Dari Abu Dzar Al-Ghifary Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: *Yang akan memutuskan sholat seorang muslim bila tidak ada tabir di depannya seperti kayu di bagian belakang kendaraan adalah wanita keledai dan anjing hitam.* Di dalam hadits disebutkan: Anjing hitam adalah setan. Dikeluarkan oleh Imam Muslim.

Menurut riwayat Muslim dari hadits Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu terdapat hadits semisal tanpa menyebut anjing.

Menurut riwayat Abu Dawud dan Nasa'i dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu ada hadits semisal tanpa menyebutkan kalimat akhir (yaitu anjing) dan membatasi wanita dengan yang sedang haid.

*MAKNA HADITS :*

```Shalat adalah bermunajat kepada Allah tuhan semesta alam. Shalat di tempat yang ada wanita di sekelilingnya, kemudian wanita itu lalu lalang di hadapan orang
yang sedang shalat tentu keadaan ini membuat orang yang shalat itu melakukan perkara-perkara yang bertentangan dengan tuntutan shalatnya yang benar, karena fitnah selalu ditimbulkan oleh wanita. Keledai memiliki kedudukan yang sama dengan syaitan, kerana ringkikannya secara mengejutkan dapat mengganggu orang yang sedang shalat. Anjing itu adalah syaitan, terlebih lagi
anjing yang berwarna hitam. Anjing hitam gemar mengganggu keadaan melalui lolongannya. Ia adalah anjing yang paling ganas, paling kotor dan paling sedikit
manfaatnya serta paling banyak tidur.```

*FIQH HADITS :*

Pahala orang shalat yang tidak memasang penghalang atau pembatas akan berkurang. Pahala shalat itu berkurang karena menjadi jalan bagi wanita, keledai dan anjing hitam.

Imam Malik, Imam al-Syafi'i dan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa pahala shalat tidak berkurang karena ada sesuatu yang lewat di depan atau berdekatan dengan seseorang. Mereka menguatkan pendapatnya dengan hadis no.190 yang lafaznya:

لا يقطع الصلاة شيء وادرءوا ماستطعتم

“Tidak ada sesuatu apapun yang bisa mengurangi pahala shalat dan tolaklah oleh kamu dengan semampu kamu.” Kemudian mereka menyanggah hadits ini dengan mengatakan bahwa apa yang dimaksudkan “mengurangi pahala shalat” di sini ialah
memutuskan kekhusyukan dan zikir karena terganggu oleh perkara-perkara tersebut hingga tumpuan seseorang yang sedang shalat tertuju kepadanya, tetapi tidak merusak shalatnya.

Imam Ahmad berkata: “Shalat menjadi batal apabila ada anjing hitam lewat di hadapannya, sedangkan pendapat yang lain apabila lewat di depannya tidak
membatalkan atau memutuskan shalat.”

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB MEMBUAT PEMBATAS BAGI ORANG SHALAT*_

*HADITS KE 188 :*

*وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ اَلنَّاسِ  فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ  فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ  فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ : ( فَإِنَّ مَعَهُ اَلْقَرِينَ )*

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: *Apabila seseorang di antara kamu sholat dengan memasang batas yang membatasinya dari orang-orang lalu ada seseorang yang hendak lewat di hadapannya maka hendaklah ia mencegahnya. Bila tidak mau perangilah dia sebab dia sesungguhnya adalah setan.* Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa dia bersama setan.

*MAKNA HADITS :*

```Manusia senantiasa disertai oleh dua jenis teman. Pertama, teman yang jujur dan
menganjurkan kepada kejujuran, yaitu dari kalangan malaikat. Ia senantiasa menyuruh kebaikan dan mencegah perbuatan jahat. Kedua, teman jahat sekaligus musuh manusia, yaitu dari kalangan syaitan. Ia senantiasa menyuruh kejahatan dan mencegah perbuatan baik. Maka berhati-hatilah anda, wahai orang muslim.
Janganlah anda biarkan diri anda dipedaya oleh teman jahat itu yang senantiasa menyuruh diri anda berani lewat di hadapan orang yang sedang shalat, karena anda
pasti menerima dampaknya berupa perlakuan keras darinya, sedangkan azab di akhirat kelak lebih dahsyat dan lebih kekal untukmu.```

*FIQH HADITS :*

1. Disyariatkan meletakkan tanda ketika hendak mengerjakan shalat walau apa pun bentuknya, baik berupa dinding ataupun lain-lain, dan melarang orang lewat di antara orang yang sedang shalat dengan pembatasnya itu.

2. Al-Muqatalah, yakni menolak dengan keras orang yang hendak lewat di hadapannya apabila orang tersebut tetap memaksa meskipun telah diberikan isyarat terhadapnya. Hal ini dilakukan apabila dia telah meletakkan pembatas dalam shlatnya. Tetapi jika dia tidak meletakkan pembatas, maka tidak ada hak
baginya untuk menolak orang yang lewat di hadapannya.

3. Boleh menggunakan lafaz “syaitan” kepada manusia yang ingin merusak shalat orang yang sedang mengerjakannya dan ingin memfitnah agamanya.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB MEMBUAT PEMBATAS BAGI ORANG SHALAT*_

*HADITS KE 189 :*

*وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَيْئًا  فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَنْصِبْ عَصًا  فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَلْيَخُطَّ خَطًّا  ثُمَّ لَا يَضُرُّهُ مَنْ مَرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ )  أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ  وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ  وَلَمْ يُصِبْ مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ مُضْطَرِبٌ  بَلْ هُوَ حَسَنٌ*

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu sholat hendaklah ia membuat sesuatu di depannya jika ia tidak mendapatkan hendaknya ia menancapkan tongkat jika tidak memungkinkan hendaknya ia membuat garis namun hal itu tidak mengganggu orang yang lewat di depannya. Dikeluarkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Shahih menurut Ibnu Hibban. Hadits ini hasan dan tidak benar jika orang menganggapnya hadits mudltorib.

*MAKNA HADITS :*

```Oleh kerana tujuan utama dibalik meletakkan pembatas itu adalah menjaga kemuliaan orang yang sedang shalat supaya tidak dilanggar yang terletak antara
tempat berdiri hingga tempat sujudnya, maka syariat Islam sudah menganggap mencukupi meletakkan sesuatu objek yang menunjukkan bahwa orang itu sedang dalam shalat seperti garis yang dia goreskan dengan tangan berbentuk melengkung
seperti bulan sabit sebagai pembatasnya. Menghamparkan sajadah dapat menggantikan kedudukan garis, menurut mazhab Imam Syafii, sebab sejadah itu
sudah mencukupi sebagai syarat bahwa seseorang sedang shalat. Disamakan dengan sajadah adalah tindakan meletakkan pelana unta di hadapannya, sebagaimana yang
telah disebut di dalam hadits Ibnu Umar (r.a).```

*FIQH HADITS :*

Disyariatkan membuat pembatas bagi orang yang hendak mengerjakan shalat dan
pembatas ini tidak semestinya khusus dengan satu jenis, sebaliknya ia meliputi
segala sesuatu yang boleh dijadikan sebagai pembatas oleh orang yang hendak mengerjakan shalat. Pembatas tersebut mestilah dibuat supaya orang lain
memahami bahwa seseorang itu sedang mengerjakan shalat.
Imam al-Syafi'i menganggap hamparan sajadah sebagai pembatas, karena ia sudah mencukupi untuk memberikan kefahaman bahwa seseorang tersebut sedang shalat.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB MEMBUAT PEMBATAS BAGI ORANG SHALAT*_

*HADITS KE 190 :*

*وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا يَقْطَعُ اَلصَّلَاةَ شَيْءٌ  وَادْرَأْ مَا اِسْتَطَعْتَ )  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ  وَفِي سَنَدِهِ ضَعْفٌ*

Dari Abu Said Al-Khudry bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: *Tidak akan menghentikan sholat suatu apapun (jika tidak ada yang menghentikan) cegahlah sekuat tenagamu.* Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Dalam sanadnya ada kelemahan.

*MAKNA HADITS :*

```Mengingat khusyuk merupakan inti sholat dan rohnya, maka syariat Islam mengingatkan agar berwaspada terhadap segala sesuatu yang bisa mengganggu
sholat dan mengakibatkan pahala sholat berkurang. Syariat mengungkapkan "pahala sholat berkurang‟ dengan istilah terputus. Dalam hal itu, baginda bersabda:

يقطع الصلاة مرور المرأة والحمار والكلب الاسود

“Pahala sholat bisa berkurang lantaran wanita, keledai dan anjing hitam lewat (di depannya).”

Ini berlaku bagi orang yang tidak meletakkan pembatas dalam sholat, namun sholatnya tidak batal jika difahami secara sekilas. Oleh itu, Islam menyanggah
anggapan tersebut melalui sabda Rasulullah (s.a.w) berikut:

لا يقطع الصلاة شيء

“Tidak ada sesuatu pun yang bisa memutuskan sholat.”

Dengan demikian, maksud kedua hadis ini dapat dipertemukan dan tidak ada pertentangan, disamping hadis ini tidak bermaksud sholat itu batal, sebaliknya ia bermaksud pahala sholat itu berkurang.```

*FIQH HADITS :*

1. Shalat seseorang tidak batal karena adanya sesuatu yang lewat di hadapannya.

2. Seseorang diperbolehkan menolak orang yang akan lewat di hadapannya dengan segala kemampuan yang ada pada dirinya ketika dalam sholat.

3. Lewat di depan orang yang sedang sholat merupakan perbuatan tercela dan oleh
kerananya, pelakunya dikatakan seperti syaitan.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Senin, 09 Juli 2018

Kajian hadits Ikaba 171-180

*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 171 :*

*وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ( اَلْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا اَلْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ )  رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ  وَلَهُ عِلَّةٌ*

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa *Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Bumi itu seluruhnya masjid kecuali kuburan dan kamar mandi.* Riwayat Tirmidzi tetapi ada cacatnya.

*HADITS KE 172 :*

*وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-]قَالَ] : ( نَهَى اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُصَلَّى فِي سَبْعِ مَوَاطِنَ : اَلْمَزْبَلَةِ  وَالْمَجْزَرَةِ  وَالْمَقْبَرَةِ  وَقَارِعَةِ اَلطَّرِيقِ  وَالْحَمَّامِ  وَمَعَاطِنِ اَلْإِبِلِ  وَفَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ اَللَّهِ )  رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَهُ* 

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu *bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang untuk sholat di tujuh tempat: tempat sampah tempat penyembelihan hewan pekuburan tengah jalan kamar mandi/WC kandang unta dan di atas Ka'bah.* Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dinilai lemah olehnya.

*HADITS KE 173 :*

*وَعَنْ أَبِي مَرْثَدٍ اَلْغَنَوِيِّ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتَ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : ( لَا تُصَلُّوا إِلَى اَلْقُبُورِ  وَلَا تَجْلِسُوا عَلَيْهَا )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ*

Abu Murtsad Al-Ghonawy berkata: *Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Janganlah engkau sholat menghadap kuburan dan jangan pula engkau duduk di atasnya.* Riwayat Muslim.

*MAKNA HADITS :*

```Solat merupakan kewajipan yang telah difardukan oleh Allah (s.w.t) atas hamba-Nya yang beriman dan mensyaratkan tempat untuk menunaikan solat mestilah
suci. Oleh sebab itu, orang yang hendak solat wajib memilih tempat yang suci dan bukannya tempat umum seperti di tengah jalan, bukan pula tempat najis seperti
kuburan, tempat penyembelihan, dan tempat pembuangan sampah, bukan pula tempat yang pada umumnya tidak bebas dari najis, seperti kamar mandi, bukan
pula tempat yang menjadi tempat bersemayamnya syaitan-syaitan seperti tempat peternakan unta, dan bukan pula di atas Baitullah, kerana ketiadaan kiblat untuk
menghadap ke arahnya jika dia solat di atasnya.```

*FIQH HADITS :*

Bumi secara keseluruhannya adalah sah untuk dijadikan sebagai tempat solat kecuali tempat-tempat berikut:

1. Kuburan. Imam Ahmad dan murid-muridnya berpendapat haram mengerjakan solat di perkuburan dan solatnya tidak sah berlandaskan kepada larangan yang terdapat di dalam hadis ini yang bersifat umum ini. Imam Abu Hanifah berpendapat makruh mengerjakan solat di kuburan. Beliau tidak membedakan antara kuburan yang telah dibongkar lagi dan kuburan yang selain itu. Mazhab Maliki berpendapat bahwa mengerjakan solat di kuburan diperbolehkan dan tidak dimakruhkan selagi tidak diketahui bahwa ia adalah najis. Imam al-Syafi'i membedakan antara kuburan yang telah digali lagi dan perkuburan yang selain itu. Dalam kaitan ini, beliau berkata:
“Jika kuburan itu telah dibongkar hingga tanahnya bercampur dengan daging dan nanah mayat serta semua kotoran yang keluar darinya, maka tidak boleh mengerjakan solat di kuburan itu kerana adanya najis. Tetapi
jika seseorang mengerjakan solat di tempat yang suci di kawasan kuburan itu, maka solatnya tetap sah. Jika kuburan itu tidak dibongkar, maka diperbolehkan solat di kawasan sekitarnya, tetapi itu makruh. Jika dia ragu baik kuburan itu telah dibongkar ataupun tidak, maka ada dua pendapat dalam masalah ini.”

2. Tempat mandi air hangat. Imam al-Syafi'i dan Imam Abu Hanifah berpendapat sah solat di tempat mandi air hangat selagi tempat tersebut selamat dari barang najis, namun hukumnya makruh. Jika tidak selamat dari najis, maka solatnya tidak sah. Inilah tafsiran hadis di atas menurut Imam al-Syafi'i dan Imam Abu Hanifah. Imam Malik mengatakan boleh mengerjakan solat di tempat mandi air hangat dan tidak dimakruhkan. Sedangkan Imam Ahmad mengatakan tidak sah, kerana merujuk kepada larangan yang bersifat umum di dalam hadis ini.

3. Tempat penyembelihan dan tempat pembuangan sampah, sebab kedua tempat tersebut adalah mutanajjis.

4. Jalan umum. Sebab dilarang mengerjakan solat di jalan umum karena orang lain turut mempunyai hak untuk lewat di kawasan itu di samping solat yang dikerjakannya tidak terganggu oleh orang yang lalu lalang di sekitarnya.

5. Tempat istirahat. dilarang mengerjakan solat di tempat istirahat ternakan unta kerana
tempat itu merupakan tempat syaitan dan dikawatirkan unta-unta akan lari hingga mengakibatkan rusaknya solat orang yang bersangkutan.

6. Mengerjakan solat di atas Baitullah dilarang karena tidak ada lagi arah kemana dia mesti menghadap yang dalam hal ini adalah menghadap ke arah kiblat.

7. Dilarang duduk di atas kuburan. Larangan ini bermaksud makruh. Adapun duduk di atas atau di tepi kuburan dengan tujuan membuang air kecil atau air besar, maka hukumnya haram.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 174 :*

*وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ اَلْمَسْجِدَ  فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ أَذًى أَوْ قَذَرًا فَلْيَمْسَحْهُ  وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا )  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ  وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ*

Dari Abu Said Radliyallaahu 'anhu *bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu mendatangi masjid hendaklah ia memperhatikan jika ia melihat kotoran atau najis pada kedua sandalnya hendaklah ia membasuhnya dan sholat dengan mengenakannya.* Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.

*HADITS KE 175 :*

*وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا وَطِئَ أَحَدُكُمْ اَلْأَذَى بِخُفَّيْهِ فَطَهُورُهُمَا اَلتُّرَابُ )  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ* 

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu *bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu menginjak najis dengan sepatunya maka sebagai pencucinya ialah debu tanah.* Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

*MAKNA HADITS :*

```Ketika Nabi (s.a.w) sedang berada di hadapan Allah dan bermunajat kepada-Nya
dalam solat, tiba-tiba baginda menanggalkan kedua sandalnya. Melihat itu, para sahabat yang bermakmum di belakangnya turut menanggalkan sandal mereka masing-masing karena perbuatan Nabi (s.a.w). Ketika selesai mengerjakan solat, baginda bertanya kepada mereka mengenai sebab yang mendorong mereka turut menanggalkan sandal mereka. Mereka menjawab: “Kami melihat tuan menanggalkan kedua sandal.” Nabi (s.a.w) bersabda kepada mereka: “Jibril tadi datang kepadaku, lalu dia memberitahu bahwa pada kedua sandalku terdapat najis, maka aku segera melepaskannya.” Kemudian Nabi (s.a.w) memberitahukan kepada mereka: “Barang siapa yang datang ke masjid lalu melihat najis pada sandalnya, maka hendaklah dia menggosokkannya ke tanah, lalu dia boleh mengerjakan solat dengan memakainya.”```

*FIQH HADITS :*

1. Sholat tidak batal kerana adanya najis yang baru dia ketahui, tetapi dengan syarat segera menghilangkannya dengan melakukan sedikit gerakan sesudah mengetahuinya. Jika itu dilakukan dengan banyak gerakan, maka solatnya menjadi batal. Inilah pendapat yang masyhur di kalangan mazhab Hanbali.

Menurut pendapat Imam al-Syafi'i dalam qaul qadim dan qaul jadid, batal solatnya. Inilah pendapat yang masyhur di sisinya.

Mazhab Maliki mengatakan, batal solatnya apabila seseorang mengetahui adanya najis itu,
kecuali jika najis berada pada bagian bawah khuffnya maka dia mesti segera melepaskan kedua khuffnya itu.

2. Rasulullah (s.a.w) mengajarkan kepada umatnya apa yang mesti mereka lakukan terhadap najis yang mereka ketahui ada pada diri mereka ketika sedang solat.

3. Solat dengan memakai sandal adalah disyariatkan selagi keduanya dalam keadaan suci.

4. Menggosokkan sandal ke tanah dapat menyucikan najis yang ada pada bagian bawahnya, sekalipun najis itu basah. Inilah pendapat Imam Ahmad dan Abu Yusuf berlandaskan kepada makna zahir hadis di atas. Imam Malik
dan Imam al-Syafi'i mengatakan, apabila najis yang ada pada selipar itu basah, maka ia tidak menjadi suci hanya dengan menggosokkannya ke tanah,
sebaliknya ia wajib dibasuh. Kedua  ulama ini mentafsirkan hadis ini
bahwa najis yang diinjak tersebut dalam keadaan kering, lalu sebagian kecil darinya melekat pada bagian bawah sandal, tetapi dapat dihilangkan dengan cara menggosokkannya ke tanah. Imam Abu Hanifah berpendapat, apa
yang dimaksudkan dengan najis di sini ialah najis yang nampak bendanya dan ia kering, karena najis yang basah mencemari tanah dan akan menyebar ke setiap tempat.

5. Bergerak dengan sedikit gerakan dalam solat tidak membatalkan solat.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 176:*

*وَعَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ اَلْحَكَمِ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِنَّ هَذِهِ اَلصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ اَلنَّاسِ  إِنَّمَا هُوَ اَلتَّسْبِيحُ  وَالتَّكْبِيرُ  وَقِرَاءَةُ اَلْقُرْآنِ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ* 

Dari Muawiyah Ibnul Hakam Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: *Sesungguhnya sholat ini tidak layak di dalamnya ada suatu perkataan manusia. Ia hanyalah tasbih takbir dan bacaan al-Qur'an.* Diriwayatkan oleh Muslim.

*MAKNA HADITS :*

```Rasulullah (s.a.w) selalu berakhlak mulia, gemar memaafkan kesalahan orang
jahil, berbelas kasihan, membimbing dan memberinya petunjuk ke jalan yang benar dengan cara lemah lembut.
Ketika masih baru masuk Islam, para sahabat menerima ilmu dari Rasulullah (s.a.w) secara berperingkat. Mereka sering kali mengkritik apabila melihat baginda melakukan perkara-perkara yang menurut mereka berselisih antara satu sama lain. Oleh itu, mereka memprotes Mu'awiyah ibn al-Hakam ketika membaca tasymith terhadap orang yang bersin, padahal dia sedang sholat; perbuatan tersebut membatalkan sholat. Kemudian Rasulullah (s.a.w) meredakan ketegangan dan
kritikan mereka melalui keputusan hukum yang baginda ajarkan kepada mereka dari satu waktu ke waktu yang lain, sebagai asas yang kuat bagi agama ini untuk
memastikannya terus terpelihara sampai hari kiamat nanti.```

*FIQH HADITS :*

1. Haram berbicara disaat dalam sholat, baik karena keperluan penting ataupun sebaliknya, baik ada kaitannya dengan kemaslahatan sholat atau
sebaliknya. Jika untuk mengingatkan sesuatu atau memberi izin masuk kepada
tamu dan sebagainya, maka hendaklah bertasbih bagi lelaki dan bertepuk tangan bagi perempuan. Inilah pendapat Imam Malik, Imam al-Syafi'i, Imam
Abu Hanifah, dan jumhur ulama salaf dan khalaf. Sekumpulan ulama berkata: “Berbicara untuk kemaslahatan yang ada kaitannya dengan sholat diperbolehkan
dan ini berdasarkan kepada hadis Dzu al-Yadain.” Hal ini berkaitan dengan orang yang berbicara dengan sengaja dan tahu hukumnya. Adapun orang yang
berbicara karena lupa dan orang yang tidak tahu hukum solat kerana baru masuk Islam, maka sholatnya tidak batal selagi apa yang dibicarakan itu hanya
sedikit. Inilah pendapat Imam al-Syafi'i, Imam Malik dan Imam Ahmad. Mereka berpendapat demikian kerana berlandaskan kepada hadis Dzu al-Yadain mengenai orang yang lupa hingga berbicara di dalam solatnya, dan
hadis Mu'awiyah mengenai orang yang tidak tahu hukum sholat. Sedangkan Imam Abu Hanifah mengatakan sholat mereka tetap batal.

2. Diperbolehkan melakukan sedikit gerakan dalam sholat. Ini tidak membatalkan sholat dan tidak pula makruh apabila untuk suatu keperluan.

3. Menjelaskan kemuliaan akhlak Rasulullah (s.a.w), bersikap lemah lembut terhadap orang yang tidak tahu hukum agama dan berkasih sayang kepada umat Islam.

4. Anjuran untuk berakhlak sebagaimana akhlak Nabi (s.a.w) yang dalam hal ini adalah bersikap lemah lembut terhadap orang yang tidak tahu hukum agama,
cara mengajar mereka dengan baik, berbelas kasihan kepada merela serta memberikan penjelasan dan uraian kepada mereka dengan kaidah yang
mudah difahami.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 177:*

*وَعَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رضي الله عنه قَالَ : ( إِنْ كُنَّا لَنَتَكَلَّمُ فِي اَلصَّلَاةِ عَلَى عَهْدِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يُكَلِّمُ أَحَدُنَا صَاحِبَهُ بِحَاجَتِهِ  حَتَّى نَزَلَتْ : (حَافِظُوا عَلَى اَلصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ اَلْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ)]اَلْبَقَرَة : ٢٣٨]  فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوتِ  وَنُهِينَا عَنْ اَلْكَلَامِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ  وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ*

Zaid Ibnu Arqom berkata: *Kami benar-benar pernah berbicara dalam sholat pada jaman Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam salah seorang dari kami berbicara dengan temannya untuk keperluannya sehingga turunlah ayat (Peliharalah segala sholat(mu) dan sholat yang tengah dan berdirilah untuk Allah dengan khusyu') lalu kami diperintahkan untuk diam dan kami dilarang untuk berbicara.* Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim.

*MAKNA HADITS :*

```Pada permulaan Islam, berbicara di dalam sholat tidak membatalkan sholat.
Setelah Allah melihat kaum muslimin telah mematuhi semua apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah (s.a.w) sesuai dengan perintah Allah, Allah kemudian menurunkan kepada Rasul-Nya satu ayat yang menyuruh mereka
memelihara sholat. Secara khusus Allah memerintahkan agar memelihara sholat Asar
memandangkan sholat Asar merupakan sholat yang sering kali terlepas, sebab ia merupakan waktu istirahat sesudah lelah bekerja sepanjang siang hari. Allah menyuruh mereka diam (tidak berbicara) semasa di dalam sholat dan menyuruh mereka mengerjakan sholat menghadap kepada Allah dengan khusyuk.```

*FIQH HADITS :*

1. Dianjurkan memelihara sholat lima waktu.

2. Diaujurkan memelihara sholat wustha, yakni sholat Asar.

3. Haram berbicara diwaktu mengerjakan sholat dan sholat menjadi batal karena berbicara adalah dengan sengaja bukan untuk kemaslahatan.

4. Penggunaan perkataan al-qunut menunjukkan arti diam dan ini merupakan salah satu maknanya. Para sahabat memahami makna ini bagi lafaz al-qunut dari al-Qur'an dan berlandaskan tafsiran Nabi (s.a.w) terhadapnya.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 178:*

*وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلتَّسْبِيحُ لِلرِّجَالِ  وَالتَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. زَادَ مُسْلِمٌ ( فِي اَلصَّلَاةِ )

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Tasbih itu bagi laki-laki dan tepuk tangan itu bagi wanita. Muttafaq Alaihi. Muslim menambahkan: Di dalam sholat.

*MAKNA HADITS :*

```Kaum wanita diperintahkan untuk merendahkan suara, karena dikawatiri menimbulkan fitnah. Ada kalanya seorang wanita mengalami suatu keadaan di luar dugaan ketika sedang sholat dan dia ingin memberikan peringatan mengenai keadaan dirinya. Dalam keadaan seperti ini dia disyariatkan bertepuk tangan untuk memberitahukan bahwa dia berada dalam sholat. Sedangkan bagi lelaki disyariatkan membaca tasbih untuk memberitahukan kepada orang yang mendengarnya bahwa dia sedang sholat.```

*FIQH HADITS :*

1. Disyariatkan membaca tasbih bagi kaum lelaki dan bertepuk tangan bagi kaum wanita apabila keduanya terpaksa melakukan sesuatu ketika dalam sholat seperti memberi izin bagi orang yang hendak masuk rumah, mengingatkan orang buta, mengingatkan orang yang lalai, atau mengingatkan imam tentang sesuatu yang termasuk dalam urusan sholat atau perkara lain di luar sholat. Hukum berbuat demikian adalah kerana riwayat yang mengatakan "فليسبح" dengan
memakai bentuk kata perintah.

2. Suara perempuan adalah fitnah. Oleh sebab itu, dia mesti merendahkan suaranya.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 179 :*

*وَعَنْ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ  عَنْ أَبِيهِ قَالَ : ( رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي  وَفِي صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ اَلْمِرْجَلِ  مِنْ اَلْبُكَاءِ )  أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ  إِلَّا اِبْنَ مَاجَهْ  وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ.*

Dari Mutharrif Ibnu Abdullah Ibnus Syikhir dari ayahnya dia berkata: *Aku melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sedang sholat dan di dadanya ada suara seperti suara air yang mendidih karena menangis.* Dikeluarkan oleh Imam Lima kecuali Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban.

*MAKNA HADITS :*

```Allah mengampuni dosa-dosa Rasulullah (s.a.w) yang terdahulu maupun yang akan datang. Walaupun begitu, baginda senantiasa merasa takut kepada Allah dengan perasaan takut yang disertai takzim. Baginda berdiri di hadapan Allah dalam sholat, sedangkan air matanya mengalir hangat dengan deras disertai dengan suara tangisan dan rintihan. Jika membaca ayat rahmat, baginda pun gembira, tetapi apabila membaca ayat azab, maka bergetarlah hatinya dengan penuh rasa ketakutan. Ini karena baginda adalah orang yang paling tahu tentang Allah dan paling dekat denganNya. Maka tidak heran apabila hatinya dipenuhi dengan perasaan takut kepada Allah, hingga mengalirlah air matanya dengan deras, lalu
terdengar suara tangisan dan rintihannya. Hal ini tidak membatalkan sholat.```

*FIQH HADITS :*

Menangis dalam sholat karena merasa takut kepada Allah tidak membatalkan sholat di sisi jumhur ulama.

Imam al-Syafi'i berkata: “Jika keluar dari tangisan itu dua huruf, maka ia membatalkan sholat secara mutlak, sama ada disebabkan rasa takut kepada Allah ataupun sebaliknya.”

Ulama berbeda pendapat mengenai tangisan yang bukan kerana takut kepada Allah :

Imam Malik berkata: “Jika tangisannya tidak bersuara, maka itu dimaafkan. Jika bersuara, maka hukumnya itu sama dengan berbicara di dalam sholat. Jika dilakukan dengan sengaja, maka batal sholatnya, baik sedikit ataupun banyak. Jika dilakukan karena lupa dan itu dilakukan dengan banyak, maka ia membatalkan sholat, tetapi jika tangisan yang sedikit, maka itu tidak membatalkan sholat.”

Imam Ahmad berkata: “Jika dari tangisan itu keluar dua huruf, maka ia membatalkan sholat selagi bukan karena tidak tertahankan, tetapi jika tidak dapat mengawal lagi tangisannya hingga keluar darinya dua huruf, maka sholatnya
tidak batal.”

Imam Abu Hanifah berkata: “Jika menangis karena sakit atau musibah, maka sholatnya batal, karena itu bererti mengungkap perasaan kesal, gundah gulana dan tidak ridha dengan apa yang telah ditakdirkan Allah atas dirinya.”

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 180 :*

*وَعَنْ عَلَيٍّ رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ لِي مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَدْخَلَانِ  فَكُنْتُ إِذَا أَتَيْتُهُ وَهُوَ يُصَلِّي تَنَحْنَحَ لِي )  رَوَاهُ النَّسَائِيُّ  وَابْنُ مَاجَهْ*

Ali Radliyallaahu 'anhu berkata: *Aku mempunyai dua pintu masuk kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam maka jika aku mendatanginya ketika beliau sholat beliau akan berdehem buatku.* Diriwayatkan oleh Nasa'i dan Ibnu Majah.

*MAKNA HADITS :*

```Ali bin Abi Thalib (r.a) termasuk orang yang paling dekat dengan Nabi (s.a.w). Beliau dididik dalam asuhan Nabi (s.a.w) dan dibesarkan di dalam rumahnya. Tidak heran apabila Nabi (s.a.w) mempunyai dua kamar yang satu dikhususkan
untuk Ali bin Abi Thalib.

Antara kisah yang diceritakan Ali bin Abi Thalib adalah jika beliau masuk hendak menemui Nabi (s.a.w), sedangkan baginda dalam keadaan shalat, baginda
berdehem kepadanya. Ini dilakukan pada waktu-waktu tertentu, karena baginda sering mengucapkan tasbih kepadanya, dan tasbih adalah lebih utama sekalipun berdehem tidak membatalkan shalat mengikuti pendapat yang paling kuat.```

*FIQH HADITS :*

Berdehem di dalam shalat tidak membatalkannya. Imam al-Syafi'i berkata: “Jika keluar dua huruf dari berdehem itu atau satu huruf yang mempunyai makna, maka shalatnya batal, tetapi jika tidak memiliki makna, maka shalatnya tidak batal.”

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Jumat, 06 Juli 2018

Kajian Hadits Ikaba 162-170

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 163 :*

*عَنْ عَلِيِّ بْنِ طَلْقٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا فَسَا أَحَدُكُمْ فِي اَلصَّلَاةِ فَلْيَنْصَرِفْ  وَلْيَتَوَضَّأْ  وَلْيُعِدْ اَلصَّلَاةَ)  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ  وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ*

Dari Ali Ibnu Abu Thalib Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: *Apabila seseorang di antara kamu kentut dalam sholat maka hendaknya ia membatalkan sholat berwudlu dan mengulangi sholatnya.* Riwayat Imam Lima. Shahih menurut Ibnu Hibban.

*MAKNA HADITS :*

```sesuatu yang keluar dari salah satu dua kemaluan adalah membatalkan wuduk. Ini merupakan ijmak ulama. Oleh karena itu, sholat pun menjadi batal karenanya.```

*FIQH HADITS :*

1. Keluar angin dari dubur membatalkan wuduk dan kemudian diqiaskan kepadanya segala yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur).

2. Sholat batal disebabkan  keluarnya angin (hadas) dan wajib mengulangi lagi sholatnya.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
[19/6 2:03 AM] Musthofa AB: *السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 164 :*

*وَعَنْ عَائِشَةَ عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا يَقْبَلُ اَللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلَّا بِخِمَارٍ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيُّ  وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ* 

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: *Allah tidak akan menerima sholat seorang perempuan yang telah haid (telah baligh kecuali dengan memakai kerudung.* Riwayat Imam Lima kecuali Nasa'i dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.

*MAKNA HADITS :*

```Rasulullah (s.a.w) menjelaskan seorang wanita mengerjakan sholat mestilah menutup kepala, leher dan seluruh tubuhnya, kerana semua itu merupakan aurat
baginya. Jika dia mengerjakan sholat dalam keadaan tubuh terbuka, maka sholatnya batal (tidak sah). Inilah yang dimaksudkan dengan sabda Rasulullah (s.a.w): “Allah
tidak akan menerima solatnya” dalam hadis di atas.

Maksud haid di sini bukanlah makna yang sebenarnya, sebab wanita yang sedang haid jelas tidak dibolehkan sholat. Maksudnya ialah ungkapan al-mubalaghah,
kerana haid merupakan salah satu bukti seorang wanita itu telah berusia baligh.```

*FIQH HADITS :*

1. Wanita ketika mengerjakan sholat wajib menutup kepala, leher dan seluruh anggota tubuhnya yang lain sejauh yang terjangkau oleh kerudung.

2. Antara wanita merdeka dengan wanita sahaya wujud persamaan dimana mereka sama-sama diwajibkan menutup aurat ketika dalam sholat berdasarkan
perkataan haid yang bersifat umum di dalam hadis itu.

3. Jumhur ulama membedakan antara aurat wanita merdeka dengan wanita sahaya dimana aurat wanita sahaya adalah dari pusat hingga kedua lutut dan
ini berlaku di luar sholat.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..

https://ikaba.net/kajian-hadits-ibanah-al-ahkam-kitab-shalat/
[21/6 12:08 AM] Musthofa AB: *السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 165 :*

*وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَهُ ( إِنْ كَانَ اَلثَّوْبُ وَاسِعًا فَالْتَحِفْ بِهِ )  - يَعْنِي فِي الصَّلَاةِ - وَلِمُسْلِمٍ ( فَخَالِفْ بَيْنَ طَرَفَيْهِ - وَإِنْ كَانَ ضَيِّقًا فَاتَّزِرْ بِهِ  ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ*

Dari Jabir Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: *Apabila kain itu lebar maka berkudunglah dengannya -yakni dalam sholat.- Menurut riwayat Muslim: Maka selempangkanlah di antara dua ujungnya dan apabila sempit maka bersarunglah dengannya.* Muttafaq Alaihi.

*MAKNA HADITS :*

```Hukum menutup aurat di dalam sholat adalah wajib. Diperbolehkan sholat dengan memakai sehelai kain dan seseorang tidak disyaratkan memakai dua helai kain (pakaian) ketika mengerjakan sholat. Ini merupakan salah satu kemudahan dalam Islam. Namun apabila kain yang dipakai itu sempit (tidak lebar), maka hendaklah seseorang yang memakainya menjadikannya sebagai kain sarung untuk menutup auratnya dan aurat lelaki itu ialah antara pusat hingga kedua lutut. Jika kain itu lebar, maka hendaklah dia melipat kedua tepinya secara bersilang untuk menutup bagian atas tubuh.```

*FIQH HADITS :*

Boleh mengerjakan sholat dengan memakai sehelai kain. Jika kain tersebut lebar, maka selebihnya hendaklah dilipat ke atas bagian tubuh secara bersilang pada
kedua ujungnya sesudah bersarung dengannya. Apabila kain itu sempit (tidak lebar), maka cukuplah dipakai untuk bersarung agar menutupi auratnya.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
[21/6 12:18 AM] Musthofa AB: *السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 166 :*

*وَلَهُمَا مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( لَا يُصَلِّي أَحَدُكُمْ فِي اَلثَّوْبِ اَلْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنْهُ شَيْءٌ )*

Menurut riwayat Bukhari-Muslim dari hadits Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu beliau bersabda: *Janganlah seseorang di antara kamu sholat dengan memakai selembar kain yang sebagian dari kain itu tidak dapat ditaruh di atas bahunya.*

*MAKNA HADITS :*

```Menutup bagian atas tubuh dalam sholat, sekalipun tidak termasuk aurat, merupakan salah satu sikap untuk mengagungkan dan memuliakan Allah. Barang
siapa mengerjakan sholat dengan bagian atas tubuh dibiarkan terbuka, maka sholatnya tetap sah, walaupun dimakruhkan. Inilah pendapat jumhur ulama. Dalam
kaitan ini, Imam Ahmad memiliki dua pendapat. Riwayat paling kuat adalah pendapat yang mengatakan sah dan larangan ini menunjukkan hukum makruh, bukan hukum haram.```

*FIQH HADITS :*

Dilarang sholat memakai kain sekiranya pada bagian bahu seseorang itu tidak ada yang menutupi.

Imam al-Syafi'i, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan, larangan ini menunjukkan hukum makruh. Mereka mengemukakan
dalil untuk memperkuat pendapatnya dengan hadis Jabir no. 165 di atas. Jika seseorang mengerjakan solat dengan hanya memakai kain yang menutup auratnya saja tanpa mengenakan sehelai kain pun pada bahunya, maka solatnya tetap sah, tetapi itu makruh, baik dia mampu memakaikan kain pada bahunya ataupun tidak.

Imam Ahmad mengatakan, solat seseorang itu tidak sah jika dia mampu memakaikan sehelai kain pada bahunya, kerana berlandaskan kepada makna dzahir hadis di atas. Sedangkan riwayat lain menurut Imam Ahmad mengatakan, sholat seseorang itu tetap sah, tetapi dia berdosa  karena enggan memakai kain
pada bagian bahunya.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
[22/6 12:33 PM] Musthofa AB: *السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 167 :*

*وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- ; أَنَّهَا سَأَلَتْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ( أَتُصَلِّي اَلْمَرْأَةُ فِي دِرْعٍ وَخِمَارٍ  بِغَيْرِ إِزَارٍ ؟ قَالَ : إِذَا كَانَ اَلدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُورَ قَدَمَيْهَا )  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَ اَلْأَئِمَّةُ وَقْفَهُ*

Dari Ummu Salamah Radliyallaahu 'anhu bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam: *Bolehkah seorang perempuan sholat dengan memakai baju panjang dan kerudung tanpa sarung؟ Beliau bersabda: Boleh apabila baju panjang itu lebar menutupi punggung atas kedua kakinya.* Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Para Imam Hadits menilainya mauquf.

*MAKNA HADITS :*

```Aurat perempuan dalam sholat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Adapun dalam masalah ini ulama masih berselisih pendapat
sebagaimana yang akan dibahas secara terperinci dalam fiqh hadis berikut ini.```

*FIQH HADITS :*

Wanita wajib menutup seluruh anggota tubuhnya hinggga bagian luar telapak kakinya. Inilah pendapat mazhab al-Syafi'i dan mazhab Hanbali dan dalilnya
adalah hadis di atas. Jika seorang wanita solat dengan telapak kaki dalam keadaan terbuka atau ada sebagian anggota tubuhnya yang terlihat selain wajah dan kedua telapak tangan, maka dia wajib mengulangi semula sholatnya.

Mazhab Maliki berpendapat, wanita wajib menutup seluruh anggota tubuhnya selain bagian dalam telapak tangan dan kaki serta jari-jemari kedua tangan dan kedua telapak kaki. Oleh sebab itu, tidak disyariatkan menutup keduanya itu. Dengan demikian, sholatnya sah, meskipun itu makruh.

Imam Abu Hanifah dan Imam Muhammad mengatakan, wajib menutup seluruh anggota tubuh kecuali wajah, kedua telapak tangan dan kedua telapak
kaki. Kedua imam ini mengatakan, dimaafkan terbuka anggota tubuh yang kurang dari satu perempat betis, rambut, paha dan perut.

Sedangkan menurut Abu Yusuf, dimaafkan terbuka anggota tubuh yang kurang dari separuh dan dalam masalah anggota tubuh yang terbuka separuh ini ada dua riwayat yang bersumber
darinya.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
[24/6 5:13 AM] Musthofa AB: *السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 168 :*

*وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( كُنَّا مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي لَيْلَةٍ مَظْلَمَةٍ  فَأَشْكَلَتْ عَلَيْنَا اَلْقِبْلَةُ  فَصَلَّيْنَا . فَلَمَّا طَلَعَتِ اَلشَّمْسُ إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا إِلَى غَيْرِ اَلْقِبْلَةِ  فَنَزَلَتْ : (فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اَللَّهِ ) )  أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَهُ*

Amir Ibnu Rabi'ah Radliyallaahu 'anhu berkata: *Kami pernah bersama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam suatu malam yang gelap maka kami kesulitan menentukan arah kiblat lalu kami sholat. Ketika matahari terbit ternyata kami telah sholat ke arah yang bukan kiblat maka turunlah ayat (Kemana saja kamu menghadap maka disanalah wajah Allah).* Riwayat Tirmidzi. Hadits lemah menurutnya.

*MAKNA HADITS :*

```Allah (s.w.t) menyuruh hamba-hamba-Nya menghadap kiblat ketika mengerjakannya di tempat bermukim. Untuk itu Allah (s.w.t) berfirman:

فول وجهك شطر المسجد الحرام

“...Hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram....” (Surah al-Baqarah: 144).

Demikian pula semasa dalam perjalanan. Hal ini dijelaskan melalui firman-Nya:

فولوا وجوهكم شطره

“... Dan di mana saja kalian berada, palingkanlah mukamu ke arahnya....” (Surah
al-Baqarah: 144)

Namun, barang siapa yang merasa kebingungan dalam menentukan arah kiblat karena gelap, mendung atau faktor lain, maka dia wajib memperhatikan tanda-tanda yang ada di sekelilingnya dan menelitinya, kemudian solatlah dengan menghadap ke arah yang dia yakini sebagai arah kiblat. Jika kesalahan tersebut diketahui ketika masih dalam waktu solat, maka dia wajib mengulang lagi solatnya. Tetapi jika waktu solat telah lewat, maka tidak wajib baginya mengulang solat itu. Jika seseorang solat tanpa berusaha mengenal pasti terlebih dahulu arah kiblat dan ternyata dia salah dalam menentukannya, maka secara mutlak solatnya wajib diulang, baik waktu solat masih ada ataupun sebaliknya. Hadis ini berstatus dha'if; tidak dapat dijadikan sebagai hujah.```

*FIQH HADITS :*

Sah sholat seseorang yang tidak menghadap ke arah kiblat karena gelapnya malam atau mendung yang menjadikan cuaca gelap setelah dia berusaha karena untuk
mengenal pasti mengenainya. Jika setelah itu diketahui seseorang itu solat dalam keadaan tidak menghadap arah kiblat melainkan ke arah yang lain, maka
solatnya tetap sah. Inilah pendapat Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berlandaskan kepada hadis ini.

Namun Imam Malik mengatakan, orang itu disunatkan mengulangi sholatnya selagi waktunya masih ada jika ternyata dia telah membelakangi kiblat atau menghadap ke arah timur atau ke arah barat, meskipun dia telah berusaha keras untuk mengenal pasti arah kiblat itu.

Imam Malik mengemukakan alasan untuk mendukung pendapatnya bahwa disunatkan mengulangi sholat bagi seorang yang mengerjakannya secara sendirian, kerana setelah itu dia menjumpai orang lain yang mengerjakannya dalam keadaan berjemaah dan sholat itu dikerjakan dalam waktunya. Jadi, dalam keadaan ini dia disunatkan mengulangi sholatnya berjamaah bersama mereka. Imam Malik berkata:
“Jika seseorang itu miring sedikit ke kiri arah kiblat atau sedikit miring ke arah kanan kiblat, maka dia tidak perlu mengulangi sholatnya lagi, baik waktu
sholat masih ada atau sebaliknya.”

Imam al-Syafi'i berkata: “Jika seseorang yang miring ke arah kiri kiblat atau sedikit miring ke arah kanan kiblat, maka sholat itu tidak sah baginya, kerana kiblat
merupakan salah satu syarat sahnya sholat.”

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
[25/6 3:18 PM] Musthofa AB: *السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 169 :*

*وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَا بَيْنَ اَلْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ )  رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ  وَقَوَّاهُ اَلْبُخَارِيُّ*

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: *Ruang antara Timur dan Barat adalah Kiblat.* Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dikuatkan oleh Bukhari.

*MAKNA HADITS :*

```Setelah Nabi (s.a.w) tinggal di Madinah, baginda ingin menjelaskan kepada masyarakat Madinah tentang arah kiblat mereka yang terletak di antara arah timur dan arah barat. Untuk itu, baginda bersabda:

مَا بَيْنَ اَلْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

“Di antara arah timur dan arah barat terdapat arah kiblat.”
Hadis ini tidak bersifat umum yang berlaku bagi setiap daerah, kerana
adakalanya arah kiblat bagi suatu daerah ke arah timur atau malah ke arah barat.
Hal ini sebagaimana yang telah baginda sabdakan mengenai keadaan ahli Madinah berkenaan dengan menghadap dan membelakangi kiblat bagi orang yang menunaikan hajat:

ولكن شرقوا وغربوا

“Tetapi menghadaplah kamu ke arah timur atau ke arah barat!”```

*FIQH HADITS :*

1. Arah kiblat bagi penduduk Madinah dan sekitarnya terletak di tengah-tengah antara arah timur dan arah barat.

2. Orang yang melihat secara langsung kiblat wajib menghadap ke arah kiblat, karena dia mampu berbuat demikian. Bagi orang yang tinggal berjauhan dengan Ka'bah juga wajib menghadap ke arahnya, kerana sukar bagi mereka untuk dapat menghadap ke arah 'ain kiblat secara tepat.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
[27/6 5:27 AM] Musthofa AB: *السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

_*BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT*_

*HADITS KE 170 :*

*وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ زَادَ اَلْبُخَارِيُّ  ( يُومِئُ بِرَأْسِهِ  وَلَمْ يَكُنْ يَصْنَعُهُ فِي اَلْمَكْتُوبَةِ )*

*وَلِأَبِي دَاوُدَ : مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ : ( كَانَ إِذَا سَافَرَ فَأَرَادَ أَنْ يَتَطَوَّعَ اِسْتَقْبَلَ بِنَاقَتِهِ اَلْقِبْلَةِ  فَكَبَّرَ  ثُمَّ صَلَّى حَيْثُ كَانَ وَجْهَ رِكَابِهِ )  وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ*

Amir Ibnu Rabi'ah Radliyallaahu 'anhu berkata: *Aku melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sholat di atas kendaraannya ke arah mana saja kendaraan itu menghadap.* Muttafaq Alaihi. Bukhari menambahkan: *Beliau memberi isyarat dengan kepalanya namun beliau tidak melakukannya untuk sholat wajib.*

Dalam riwayat Abu Dawud dari hadits Anas Radliyallaahu 'anhu : *Apabila beliau bepergian kemudian ingin sholat sunat maka beliau menghadapkan unta kendaraannya ke arah kiblat. Beliau takbir kemudian sholat menghadap ke arah mana saja kendaraannya menghadap.* Sanadnya hasan.

*MAKNA HADITS :*

```Menghadap ke arah kiblat merupakan salah satu syarat bagi sahnya sholat. Namun Allah (s.w.t) memberikan rukhsah dalam sholat sunat ketika dalam perjalanan, baik bagi mereka yang berjalan kaki maupun yang berkenderaan. Orang yang berkenderaan diperbolehkan sholat menghadap ke arah mana kenderaan itu mengarah atau menghadap dengan syarat tertentu yang telah disebutkan di dalam kitab fiqh secara terperinci. Dalam kaitan ini turunlah firman Allah (s.w.t):

فأينما تولوا فثم وجه الله (١١٥)

“... Ke arah mana pun kalian, menghadap, maka di situlah wajah Allah...” (Surah al-Baqarah: 115)

Nabi (s.a.w) pernah mengerjakan sholat sunat di atas kenderaannya ketika baginda kembali dari Mekah menuju Madinah setelah mengerjakan haji wada‟.
Sedangkan syarat sholat fardu adalah menghadap ke arah kiblat.```

*FIQH HADITS :*

1. Sah mengerjakan sholat sunat di atas kendaraan, sekalipun tidak menghadap ke arah kiblat, karena arah di dalam perjalanan sudah dianggap sebagai kiblat baginya dan ini merupakan rukhsah (kemurahan) dari Allah (s.w.t).

2. Sholat fardu tidak boleh dikerjakan di atas kendaraan karena menghadap kiblat tidak dapat dilakukan dengan sempurna.

3. Seorang yang musafir boleh mengerjakan sholat sunat di atas kendaraan dan disyariatkan menghadap kiblat ketika melakukan takbiratul ihram saja.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..