Rabu, 13 Maret 2019

Kajian Hadits IKABA Jilid II, 01-10

*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT*_

*HADITS KE 1 :*

*عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: ( أَوَّلُ مَا فُرِضَتْ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ , فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَأُتِمَّتْ صَلَاةُ الْحَضَرِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه*

*وَلِلْبُخَارِيِّ: ( ثُمَّ هَاجَرَ, فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا, وَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ عَلَى الْأَوَّلِ )وَلِلْبُخَارِيِّ: ( ثُمَّ هَاجَرَ, فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا, وَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ عَلَى الْأَوَّلِ)*

_'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Sholat itu awalnya diwajibkan dua rakaat, lalu ia ditetapkan sebagai sholat dalam perjalanan, dan sholat di tempat disempurnakan (ditambah). Muttafaq Alaihi._

_Menurut riwayat Bukhari: Kemudian beliau hijrah, lalu diwajibkan sholat empat rakaat, dan sholat dalam perjalanan ditetapkan seperti semula._

*MAKNA HADITS :*

```Oleh kerana bermusafir sering kali menyebabkan keletihan, maka syariat Islam mempersingkat sholat empat rakaat seperti sholat dzuhur, Asar, dan Isyak menjadi
dua rakaat sebagai satu kemudahan bagi orang musafir sehinggalah dia kembali
pulang ke tempat tinggalnya.

Sholat Maghrib tidak boleh dipersingkat, karena ia merupakan witir bagi sholat siang hari, sedangkan witir disukai oleh Allah. Begitu pula sholat Subuh, tidak
boleh dipersingkat, karena dalam mengerjakan sholat Subuh bacaan al-Qur’an mesti dipanjang. Bacaan dalam sholat Subuh disaksikan oleh para malaikat dan usaha
mempercepat pelaksanaan sholat Subuh bertentangan dengan anjuran supaya bacaan al-Qur’an di dalamnya dipanjangkan.

Sholat qasar disunnatkan, karena ia adalah rukhsah. Sholat qasar lebih afdhal dari sholat secara sempurna. Allah suka apabila rukhsah-Nya dikerjakan,
sebagaimana Dia suka apabila ‘azimah-Nya dilakukan.
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa sholat qasar wajib hukumnya, karena ia merupakan hukum asal sholat, kemudian ditambah bilangan rakaat sholat fardu itu ketika sedang tidak dalam perjalanan sebagaimana yang diterangkan oleh hadis Aisyah (r.a). Dalam kaitan ini Imam Abu Hanifah tidak mengemukakan
pandangannya itu berlandaskan akal semata, sebaliknya semata-mata berlandaskan
tawqif (ketentuan syariat). Jumhur ulama mengatakan bahwa hadis Aisyah itu berkedudukan mawquf, hanya sampai kepada Aisyah (r.a).```

*FIQH HADITS :*

1. Mengqasar sholat ketika dalam perjalanan menurut mazhab Hanafi adalah wajib. Mereka mengemukakan dalil untuk mendukung pendapatnya
berlandaskan dalil hadis yang mengatakan: “فرضت) “Diwajibkan). Menurut jumhur ulama, sholat qasar merupakan rukhsah dan mengerjakannya dengan sempurna adalah lebih diutamakan. Mereka mengatakan bahwa makna “فرضت “ialah ditetapkan berdasarkan firman Allah (s.w.t):

فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلٰوةِ (١٠١)

“… Apabila kamu musafir di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqasar sholatmu...” (Surah al-Nisa’: 101)

2. Sholat Maghrib dan sholat Subuh tidak boleh mengalami perubahan, baik ketika bermukim maupun ketika bermusafir.

3. Disyariatkan memperpanjang bacaan al-Qur’an ketika mengerjakan sholat Subuh.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT*_

*HADITS KE 2 :*

*وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا; ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقْصُرُ فِي السَّفَرِ وَيُتِمُّ, وَيَصُومُ وَيُفْطِرُ )  رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ, وَرُوَاتُهُ ثِقَاتٌ. إِلَّا أَنَّهُ مَعْلُول ٌوَالْمَحْفُوظُ عَنْ عَائِشَةَ مِنْ فِعْلِهَا, وَقَالَتْ: ( إِنَّهُ لَا يَشُقُّ عَلَيَّ )  أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيّ ُ*

_Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam adakalanya mengqashar sholat dalam perjalanan dan adakalanya tidak, kadangkala puasa dan kadangkala tidak. Riwayat Daruquthni. Para perawinya dapat dipercaya, hanya saja hadits ini ma'lul. Adapun yang mahfudh dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu adalah dari perbuatannya, dan dia berkata: Sesungguhnya hal itu tidak berat bagiku. Dikeluarkan oleh Baihaqy_

*MAKNA HADITS :*

```Dalam perjalanan diperbolehkan mengqasar dan menyempurnakan sholat, sebagaimana juga diperbolehkan berbuka dan puasa, karena berbuka dan qasar merupakan satu keringanan (rukhsah). Barang siapa yang lebih menyukai ‘azimah, maka itu dia boleh melakukan dan barang siapa yang ingin mengambil rukhsah, maka itu lebih diutamakan baginya, kerana Allah menyukai apabila rukhsah-Nya dikerjakan, sebagaimana suka apabila ‘azimah-Nya dikerjakan.```

*FIQH HADITS :*

1. Dalam perjalanan diperbolehkan mengqasar sholat.

2. Dalam perjalanan diperbolehkan berbuka puasa.

3. Dalam perjalanan diperbolehkan mengerjakan sholat dengan sempurna.

4. Dalam perjalanan tetap diperbolehkan berpuasa.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT*_

*HADITS KE 3 :*

*وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( إِنَّ الله يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ )  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ وَفِي رِوَايَةٍ: ( كَمَا يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى عَزَائِمُهُ )*

_Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah suka bila rukhshoh (keringanan)-Nya dilaksanakan sebagaimana Dia benci bila maksiatnya dilaksanakan." Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Dalam suatu riwayat: "Sebagaimana Dia suka bila perintah-perintah-Nya yang keras dilakukan."_

*MAKNA HADITS :*

```Islam merupakan agama toleransi, di dalamnya tidak ada barang tekanan dan beban yang melebihi kemampuan orang mukallaf. Allah (s.w.t) berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ (١٨٥)

“… Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesukaran bagi kamu….” (Surah al-Baqarah: 185)

Allah suka apabila hamba-Nya mengerjakan apa yang telah diberi keringanan oleh-Nya sebagai bukti ketaatan kepada-Nya, sebagaimana Allah benci apabila
perbuatan durhaka terhadap-Nya dikerjakan karena melanggar perintah-Nya. Allah ridha terhadap orang yang berpegang teguh kepada apa yang telah ditetapkan-Nya demi memperoleh ridha-Nya.```

*FIQH HADITS :*

Mengerjakan rukhsah lebih diutamakan dibanding mengerjakan ‘azimah. Allah
(s.w.t) berfirman:

يُرِيدُ الله بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ (١٨٥)

“… Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesukaran bagi kamu….” (Surah al-Baqarah: 185)

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT*_

*HADITS KE 4 :*

*وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلَاثَةِ أَمْيَال ٍ أَوْ فَرَاسِخَ, صَلَّى رَكْعَتَيْنِ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ*

_Anas Radliyallaahu 'anhu berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bila keluar bepergian sejauh tiga mil atau farsakh, beliau sholat dua rakaat. Riwayat Muslim._

*MAKNA HADITS :*

```Syarat dibolehkan mengqasar sholat ialah hendaklah musafir menempuh perjalanan sejauh empat burud. Ia boleh memulai sholat qasar itu bila telah meninggalkan pusat kota. Ulama berbeda pendapat mengenai jarak yang membolehkan seseorang mengqasar sholat. Menurut jumhur ulama, perjalanan itu mestilah sejauh dua marhalah, menurut Imam Abu Hanifah tiga marhalah, sedangkan menurut mazhab dzahiri tiga mil, karena berlandaskan hadis Aisyah (r.a) ini. Jumhur ulama menyanggah batasan yang ditentukan oleh hadis ini. Batasan yang disebutkan dalam hadis ini masih diragukan dan oleh karenanya, ia tidak dapat dijadikan sebagai hujah. Mereka berpegang kepada hadis Ibnu Abbas (r.a) yang menyebutkan:

لَا تَقْصُرُوا الصَّلَاةَ فِيْ أَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةِ بُرَدٍ (رواه البيهقي بسند صحيح)

“Janganlah kamu mengqasar sholat dalam jarak kurang dari empat burud.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang sahih)```

*FIQH HADITS :*

Boleh mengqasar sholat empat rakaat dalam perjalanan dengan mempersingkatnya menjadi dua rakaat. Ulama berselisih pendapat mengenai jarak perjalanan yang
membolehkan seseorang mengqasar sholat. Mazbab Hanafi mengatakan bahwa
setidaknya perjalanan itu memerlukan masa tiga hari atau tiga malam mengikut ukuran hari atau malam yang paling singkat dalam satu tahun dan perjalanan
itu ditempuh dengan kecepatan sederhana seperti kecepatan unta biasa berjalan. Perjalanan ini diperkirakan sejauh 72 mil. Jumhur ulama mengatakan bahwa
perjalanan yang membolehkan qasar sholat adalah sejauh dua marhalah, yaitu 48 mil atau empat burud.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT*_

*HADITS KE 5 :*

*وَعَنْهُ قَالَ: ( خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ اَلْمَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ، فَكَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى اَلْمَدِينَةِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ*

_Dari Anas Radliyallaahu 'anhu berkata: Pernah kami keluar bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dari Madinah ke Mekkah. Beliau selalu sholat dua rakaat-dua rakaat sampai kami kembali ke Madinah. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari._

*MAKNA HADITS :*

```Antara kasih sayang Allah kepada hamba-Nya ialah mereka disyariatkan mengqasar
sholat semasa dalam perjalanan. Hal ini merupakan satu nikmat yang boleh dilakukan secara berterusan selagi seseorang itu masih berada dalam perjalanan
dan masih belum menetap di daerah tertentu.

Jumhur ulama berkata: “Jika seseorang yang bermusafir berniat tinggal di suatu daerah selama empat hari, maka setelah itu hukum musafir sudah dianggap
habis dan dia mesti mengerjakan sholatnya dengan sempurna.”

Mazhab Hanafi mengatakan bahwa bertempat tinggal yang dapat memutuskan hukum musafir ialah bertempat tinggal selama lima belas hari di suatu tempat. Jika
hamba seseorang itu melarikan diri atau untanya hilang lalu dia mencarinya atau mempunyai urusan yang tidak diketahui bila urusan itu selesai, maka orang itu
dibolehkan mengqasar sholat secara berterusan hingga urusannya itu selesai.

Mazhab al-Syafi’i memberi batasan maksimum untuk mengqasar sholat selama delapan belas hari. Setelah itu orang yang bersangkutan mesti mengerjakan sholatnya dengan sempurna.```

*FIQH HADITS :*

Disyariatkan mengqasar sholat empat rakaat selama dalam perjalanan.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT*_

*HADITS KE 6 :*

*عَن ابن عباس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم أَقَامَ تِسْعَةَ عَشَرَ يَوْماً يَقْصُرُ . وفي اللفظ الآخر: أَقَامَ بِـمَكَّةَ تِسْعَةَ عَشَرَ يَوْمًا. رواه البخاري. وفي رواية لأبي دود : سَبْعَ عَشَرَةَ. وفي أخرى خَمْسَ عَشَرَةَ. وَلَهُ عن عِمران ابن حُصِيْن : ثَمَانِي عَشَرَة. وَلَهُ عَنْ جَابِرٍ : أَقَامَ بِتَبُوك عِشْرِيْنَ يَوْمًا يَقْصُرُ الصَّلَاةَ. وَرُوَاتُهُ ثِقَاتٌ، إلَّا أنَّهُ أُخْتُلِفَ فِيْ وَصْلِهِ.*

_Dari Ibnu Abbas (r.a), beliau berkata: “Nabi (s.a.w) bermukim (tinggal) selama sembilan belas hari dalam keadaan tetap mengqasar sholat.” Menurut lafaz
lain disebutkan: “Di Mekah selama sembilan belas hari.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari) Menurut riwayat Abu Dawud: “Tujuh belas hari.” Menurut riwayat yang lain:
“Lima belas hari.” Abu Dawud melalui Imran ibn Hushain menyebutkan: “delapan belas hari.” Menurut riwayat Abu Dawud dari Jabir (r.a) disebutkan: “Nabi
(s.a.w) tinggal di Tabuk selama dua puluh hari dalam keadaan tetap mengqasar sholat.” (Periwayat hadis ini tsiqah. Namun ulama berselisih dalam masalah maushul ataupun tidak)_

*MAKNA HADITS :*

```Hadis-hadis yang menerangkan Nabi (s.a.w) tinggal di Mekah pada tahun pembebasan kota Mekah sangat banyak dan berbeda-beda antara satu sama lain. Ada yang mengatakan lima belas hari, tujuh belas hari, delapan belas hari,
sembilan belas hari, dan dua puluh hari.

Al-Baihaqi berkata: “Riwayat paling sahih ialah mengatakan sembilan belas hari.” Al-Haramain dan al-Baihaqi menggabungkan kesemua riwayat tersebut
dimana ulama yang mengatakan sembilan belas hari itu karena menghitung hari kedatangan dan hari kepulangan. Ulama yang mengatakan tujuh belas hari
karena membuang hari-hari kedatangan dan kepulangan, sedangkan ulama yang
mengatakan delapan belas hari itu karena membuang salah satu dari kedua hari tersebut. Ulama yang mengatakan lima belas hari meyakini bahwa asal mukim
selama tujuh belas hari, kemudian hari kedatangan dan hari kepulangan tidak dikira.

Riwayat yang mengatakan dua puluh hari, meskipun sanadnya sahih namun ia syadz (menyalahi pendapat orang lain kebanyakan) karena bertentangan dengan
riwayat jamaah. Riwayat yang mengatakan sembilan belas hari lebih kuat, sebab periwayatnya lebih banyak.

Nabi (s.a.w) mengqasar sholat selama baginda tinggal di Mekah, karena setiap hari baginda ragu antara ingin menetap untuk sementara waktu di Mekah dan
berangkat pulang menuju Madinah. Nabi (s.a.w) terus mengqashar sholat, karena pada prinsipnya baginda masih berada dalam keadaan musafir yang tidak menentu melainkan setelah betul-betul berniat untuk tinggal di daerah itu.

Ulama berbeda pendapat mengenai masa tempat tinggal yang bisa menghilangkan hukum musafir. Menurut jumhur ulama, niat tinggal selama empat
hari. Menurut Imam Abu Hanifah, tidak ada yang bisa memutuskan hukum musafir kecuali telah berniat tinggal selama lima belas hari.

Dari sini disimpulkan bahwa Islam tidak membatasi, baik dalam al-
Qur’an ataupun dalam Sunnah, mengenai masa bertempat tinggal yang bisa memutuskan hukum musafir secara nash. Oleh itu, masalah ini hendaklah tetap
senantiasa menjadi ruang untuk berijtihad.```

*FIQH HADITS :*

1. Orang yang bermukim sah bermakmum kepada orang yang bermusafir tanpa adanya hukum makruh dan orang yang bermukim hendaklah menyempurnakan sholatnya sesudah imam bersalam.

2. Imam harus memberitahu keadaan sholatnya kepada orang yang bermakmum kepadanya karena ini mengikuti amalan Nabi (s.a.w).

3. Menjelaskan masa tinggal dimana apabila seorang yang
bermusafir hendak bermukim, maka dia mestilah menyempurnakan sholatnya
dan tidak boleh mengqashar sholat setelah itu. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa waktu seseorang yang bermusafir mesti menyempurnakan sholatnya setelah lima belas hari bermukim di suatu daerah tertentu. Imam
Malik dan Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa itu dilakukan setelah bermukim empat hari, selain hari keberangkatan dan hari kepulangan. Imam Ahmad mengatakan bahwa sholat mesti disempurnakan apabila lebih empat hari bermukim di suatu daerah. Manakala seseorang yang masih ragu tentang masa dia untuk bermukim lantaran menunggu urusan selesai, maka jumhur ulama dalam satu riwayat dari Imam al-Syafi’i berkata: “Seseorang itu boleh mengqashar sholatnya selama urusannya masih belum
selesai, karena pada dasarnya dia masih dikategorikan sebagai musafir. Namun menurut pendapat yang masyhur di sisi Imam al-Syafi’i, boleh mengqasar sholat selama delapan belas hari saja.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT*_

*HADITS KE 7 :*

*وَعَنْ أَنَسٍ: ( كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ, ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا, فَإِنْ زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ, ثُمَّ رَكِبَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةِ الْحَاكِمِ فِي "الْأَرْبَعِينَ" بِإِسْنَادِ اَلصَّحِيحِ: ( صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ, ثُمَّ رَكِبَ )وَلِأَبِي نُعَيْمٍ فِي "مُسْتَخْرَجِ مُسْلِمٍ": ( كَانَ إِذَا كَانَ فِي سَفَرٍ, فَزَالَتْ الشَّمْسُ صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا, ثُمَّ اِرْتَحَلَ )*

_Anas Radliyallaahu 'anhu berkata: Biasanya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bila berangkat dalam bepergian sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan sholat Dhuhur hingga waktu Ashar. Kemudian beliau turun dan menjamak kedua sholat itu. Bila matahari telah tergelincir sebelum beliau pergi, beliau sholat Dhuhur dahulu kemudian naik kendaraan. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu hadits riwayat Hakim dalam kitab al-Arba'in dengan sanad shahih: Beliau sholat Dhuhur dan Ashar kemudian naik kendaraan. Dalam riwayat Abu Nu'aim dalam kitab Mustakhroj Muslim: Bila beliau dalam perjalanan dan matahari telah tergelincir, beliau sholat Dhuhur dan Ashar dengan jamak, kemudian berangkat._

*MAKNA HADITS :*

```Mengingat musafir merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kesusahan, maka Islam memberikan keringanan kepada musafir untuk menjamak
di antara dua sholat yang waktunya saling berdekatan seperti sholat dzuhur dengan sholat Asar dan sholat Maghrib dengan sholat Isyak, baik jamak ta’khir ataupun
jamak taqdim. Ini merupakan salah satu dari rahmat kepada orang yang sedang musafir. Inilah pendapat jumhur ulama. Dari hadis ini mereka berkesimpulan bahwa boleh melakukan jamak ta’khir dan dari hadis ini pula kemudian disimpulkan boleh melakukan jamak taqdim.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak boleh melakukan jamak di antara kedua sholat, baik jamak taqdim maupun jamak ta’khir. Beliau mentakwil hadis-hadis yang menyebut masalah jamak ini dengan mengatakan bahwa jamak yang disebutkan oleh hadis-hadis tersebut hanyalah dalam bentuk
formalitas saja. Dengan kata lain, mengerjakan sholat pertama di akhir waktunya dan sholat yang kedua pada permulaan waktunya. Barang siapa yang memandang
kepada dzahir hadis ini, dia pasti meyakini bahwa kedua sholat itu dilakukan secara jamak; dan barang siapa yang memandang hakikat hadis ini, maka dia yakin
bahwa kedua sholat tersebut dikerjakan pada waktunya masing-masing.```

*FIQH HADITS :*

Seorang yang bepergian diperbolehkan melakukan jamak taqdim dan jamak ta’khir
di antara dua sholat yang waktu saling berdekatan antara satu sama lain. Inilah pendapat Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam al-Syafi’i. Menurut suatu riwayat dari Imam Malik dan Imam Ahmad, musafir hanya dibolehkan melakukan jamak ta’khir. .
Menurut Imam Abu Hanifah, orang yang musafir tidak dibolehkan
melakukan sholat jamak, baik jamak taqdim ataupun jamak ta’khir. Beliau mentafsirkan hadis yang menerangkan bahwa Nabi (s.a.w) melakukan sholat jamak
dalam bentuk formalitas saja, yakni melakukan sholat Dzuhur di akhir waktunya dan mengerjakan sholat Asar pada permulaan waktu. Begitu pula dengan sholat Maghrib dan sholat Isyak.
Boleh melakukan jamak taqdim di ‘Arafah untuk menjamak sholat Dzuhur dengan sholat Asar, dan jamak ta’khir untuk menjamak sholat Maghrib dengan sholat Isyak di Muzdalifah. Hal ini merupakan satu bentuk kesempurnaan untuk manasik haji.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT*_

*HADITS KE 8 :*

*وَعَنْ مُعَاذٍ رضي الله عنه قَالَ: ( خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ، فَكَانَ يُصَلِّي الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا, وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ*

_Muadz Radliyallaahu 'anhu berkata: Kami pernah pergi bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam perang Tabuk. Beliau Sholat Dhuhur dan Ashar dengan jamak serta Maghrib dan Isya' dengan jamak. Riwayat Muslim._

*MAKNA HADITS :*

```Syariat Islam telah menetapkan waktu-waktu tertentu untuk mengerjakan sholat.
Setiap sholat pada dasarnya mestilah dikerjakan dalam waktu-waktu yang telah
ditetapkan itu. Mengingat musafir merupakan salah satu faktor yang bisa mmenyebabkan kesusahan, maka syariat Islam memberi keringanan atau rukhsah
untuk menjamak dua sholat yang waktunya saling berdekatan berdekatan antara satu sama lain; sholat dzuhur r dengan sholat Asar disatukan, baik jamak taqdim
ataupun jamak ta’khir, demikian pula sholat Maghrib dengan sholat Isyak disatukan, baik jamak taqdim atau jamak ta’khir.

Jika perjalanan telah dimulai pada waktu sholat yang pertama, maka jamak yang dilakukan adalah jamak ta’khir. Jika perjalanan telah dimulai pada waktu sholat yang kedua, maka jamak yang dilakukan adalah jamak taqdim. Faktor
yang membolehkan berbuat demikian adalah kesulitan dan hukumnya mubah, sedangkan hikmahnya adalah memberikan keringanan kepada orang yang sedang bermusafir. Melakukan sholat jamak di tempat tinggal hukumnya dilarang. Hadis-
hadis yang menyebutkan hal ini mestilah ditafsirkan sebagai jamak formalitas saja, tetapi pada hakikatnya setiap sholat mesti dikerjakan pada waktunya, dimana sholat pertama dikerjakan pada akhir waktunya dan sholat yang kedua dikerjakan pada permulaan waktunya.

Imam Abu Hanifah tetap berpegang kepada kaidah asal dimana beliau mewajibkan setiap sholat dikerjakan pada waktunya yang telah ditetapkan, kecuali
jamak taqdim di Arafah dan jamak ta’khir di Muzdalifah, karena adanya nash yang menerangkan hal tersebut. Beliau menjadikan jamak ini sebagai salah satu dari
kesempurnaan manasik haji dan inilah yang menjadi faktor yang membolehkan jamak. Beliau mentafsirkan keadaan-keadaan yang disebutkan di dalam Sunnah
berkaitan disyariatkan sholat jamak, bahwa jamak yang dimaksud itu adalah jamak
formalitas saja.```

*FIQH HADITS :*

Seseorang yang bermusafir disyariatkan menjamak dua sholat yang waktunya saling berdekatan antara satu sama lain.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT*_

*HADITS KE 9 :*

*وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم : ( لَا تَقْصُرُوا الصَّلَاةَ فِي أَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةِ بُرُدٍ; مِنْ مَكَّةَ إِلَى عُسْفَانَ )  رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيف وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ، كَذَا أَخْرَجَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ*

_Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jangan mengqashar sholat kurang dari empat burd, yakni dari Mekkah ke Usfan." Diriwayatkan oleh Daruquthni dengan sanad lemah. Menurut pendapat yang benar hadits ini mauquf sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah._

*MAKNA HADITS :*

```Di dalam Sunnah tidak terdapat hadis marfu’ yang sahih mengenai batasan jarak qasar ketika dalam musafir. Jadi masalah ini terbuka luas bagi ijtihad untuk memainkan peranannya. Menurut jumhur ulama, sholat boleh diqasar ketika
dalam perjalanan yang menempuh jarak dua marhalah yang diperkirakan sama dengan empat burud. Menurut Imam Abu Hanifah, sholat boleh diqasar dalam jarak
tiga marhalah. Menurut sebagian ulama lain, sholat boleh diqasar dalam setiap perjalanan, tetapi pendapat ini dinilai tidak berlandaskan kepada kajian yang
mencukupi, karena hadis dalam bab ini meskipun sanadnya dhaif tetapi dikuatkan oleh hadis mawquf Ibn Khuzaimah yang sanadnya shahih.```

*FIQH HADITS :*

Batasan minimum jarak perjalanan yang membolehkan seseorang melakukan sholat qasar sejauh empat burud atau 48 mil.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT*_

*HADITS KE 10 :*

*وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( خَيْرُ أُمَّتِي اَلَّذِينَ إِذَا أَسَاءُوا اِسْتَغْفَرُوا, وَإِذَا سَافَرُوا قَصَرُوا وَأَفْطَرُوا )  أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي "الْأَوْسَطِ" بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ وَهُوَ فِي مُرْسَلِ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عِنْدَ الْبَيْهَقِيِّ مُخْتَصَر*

_Dari Jabir Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sebaik-baik umatku adalah mereka yang bila berbuat kesalahan memohon ampunan dan bila bepergian mengqashar sholat dan membatalkan puasa." Dikeluarkan oleh Thabrani dalam Ausath dengan sanad yang lemah. Hadits tersebut juga terdapat dalam Mursal Said Ibnu al-Musayyab dengan ringkas._

*FIQH HADITS :*

1. Mengqasar sholat dan berbuka puasa ketika dalam perjalanan lebih baik bagi orang yang musafir daripada mengerjakan sholat dengan sempurna dan berpuasa.

2. Menghapus dosa dengan cara banyak membaca istighfar. Allah (s.w.t) berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ (١٣٥)

“Dan (juga) orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka mengingat Allah, lalu memohon ampun di atas dosa-dosa mereka,
dan siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah?...” (Surah Ali ‘Imran: 135)

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kajian Hadits IKABA Jilid II, 21-30

*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT JUM'AT*_

*HADITS KE 21 :*

*وَعَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ( إِنَّ طُولَ صَلَاةِ اَلرَّجُلِ, وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ*

_Ammar Ibnu Yasir Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya lamanya sholat seseorang dan pendek khutbahnya adalah pertanda akan pemahamannya (yang mendalam)." Riwayat Muslim._

*MAKNA HADITS :*

```Nabi (s.a.w) menjelaskan bahwa bukti yang menunjukkan kealiman seorang lelaki yang mengerjakan sholat itu ada dua. Pertama, sholat yang dikerjakannya dalam
waktu yang lama, tetapi tidak sampai melebihi batasan waktu yang dilarang atau membuat mudarat kepada para makmum yang berada di belakangnya. Kedua, khutbah yang disampaikannya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi isinya padat, gaya bahasanya jelas, mampu mendatangkan kesan di dalam hati para pendengar dan dapat meresap ke dalam kalbu mereka. Tingkatan khutbah yang paling hebat ini dapat dilakukan oleh Nabi (s.a.w), karena baginda dianugerahkan jawami’ al-
kalim. Tingkatan khutbah bagi orang selain baginda adalah berbeda-beda antara satu sama lain tergantung bakat para khatib masing-masing.```

*FIQH HADITS :*

1. Khutbah hendaklah dilakukan secara singkat, tetapi mengandung nasehat-nasehat yang mampu menyentuh hati.

2. Dianjurkan memperpanjang waktu pelaksanaan sholat selagi tidak menyusahkan makmum. Salah satu keistimewaan Rasulullah (s.a.w) ialah baginda dianugerahkan jawami’al-kalim.

3. Menjelaskan tanda kepandaian seorang lelaki.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT JUM'AT*_

*HADITS KE 22 :*

*وَعَنْ أُمِّ هِشَامٍ بِنْتِ حَارِثَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: ( مَا أَخَذْتُ: "ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ", إِلَّا عَنْ لِسَانِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم يَقْرَؤُهَا كُلَّ جُمُعَةٍ عَلَى الْمِنْبَرِ إِذَا خَطَبَ النَّاسَ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ*

_Ummu Hisyam Binti Haritsah Ibnu Al-Nu'man Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku tidak menghapal (Qof. Walqur'anil Majiid kecuali dari lidah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang beliau baca setiap Jum'at di atas mimbar ketika berkhutbah di hadapan orang-orang. Riwayat Muslim._

*MAKNA HADITS :*

```Dalam menyampaikan khutbah Jum'at, Rasulullah (s.a.w) memilih surah-surah yang memuat penjelasan tentang hari bangkit, kematian, nasehat dan berita
ancaman agar para sahabat mau mengambil pelajaran darinya dan mereka bersiap sedia menyambut hari akhirat.```

*FIQH HADITS :*

1. Disyariatkan membaca Al-Qur’an ketika menyampaikan khutbah. Imam al-Syafi’i menganggapnya sebagai wajib.

2. Mengulangi nasehat dan pelajaran semasa dalam khutbah.

3. Perhatian yang besar kaum wanita pada zaman permulaan Islam dimana mereka mau mendengar, menghafal dan menukil Sunnah Nabi (s.a.w) dalam setiap kesempatan.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT JUM'AT*_

*HADITS KE 23 :*

*وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا, وَاَلَّذِي يَقُولُ لَهُ: أَنْصِتْ, لَيْسَتْ لَهُ جُمُعَةٌ )  رَوَاهُ أَحْمَدُ, بِإِسْنَادٍ لَا بَأْسَ بِهِ وَهُوَ يُفَسِّرُ حَدِيْثَ أَبَى هُرَيْرَةَ فِى الصَّحِحَيْنِ مَرْفُوْعًا إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ: أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامِ يَخْطُبُ, فَقَدْ لَغَوْتَ*

_Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa berbicara pada sholat Jum'at ketika imam sedang berkhutbah, maka ia seperti keledai yang memikul kitab-kitab. Dan orang yang berkata: Diamlah, tidak ada Jum'at baginya." Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad tidak apa-apa, sebab ia menafsirkan hadits Abu Hurairah yang marfu' dalam shahih Bukhari-Muslim.
"Jika engkau berkata pada temanmu "diamlah" pada sholat Jum'at sedang imam sedang berkhutbah, maka engkau telah sia-sia."_

*MAKNA HADITS :*

```Rasulullah (s.a.w) menginginkan sholat Jum'at dilakukan dalam suasana yang tenang dan tenteram disertai dengan kedisiplinan yang tinggi dan kesopanan yang luhur.
Seseorang yang berbicara kepada teman duduk yang berada di sisinya ketika khutbah sedang disampaikan oleh imam, dia tidak memperoleh ganjaran pahala
Jum'at dan keutamaannya, karena dia telah melakukan perbuatan yang merusak etika Jum'at serta menyia-nyiakan fadhilah sholat Jum'at karena tidak mau
belajar hukum-hukum yang disampaikan dalam khutbah. Ini karena seandainya dia mengatakan: “Diam”, kemudian orang lain mengatakan pula perkara yang serupa, niscaya setiap orang akan berusaha untuk menyuruh orang lain berdiam,
sehingga khutbah imam tidak lagi didengar dan hilanglah tujuan utama berhimpun untuk mengerjakan sholat Jum'at, yaitu menciptakan keharmonian, saling mengenal antara satu sama lain dan memahami agama serta hukum-hukumnya. Atas dasar
faktor-faktor inilah yang mendorong Rasulullah (s.a.w) mengeluarkan satu hukum ke atas orang yang berbicara ketika khutbah sedang disampaikan, bahwa dia telah berbuat lagha dan barang siapa yang berbuat lagha, bererti dia tidak memperoleh
ganjaran pahala Jum'at.```

*FIQH HADITS :*

Haram berbicara walau apapun keadaannya ketika khutbah sedang disampaikan, meskipun seseorang itu tidak mendengarnya menurut Imam Malik. Mazhab Hanafi
mengatakan bahwa berbicara ketika khutbah sedang disampaikan hukumnya
makruh tahrim, meskipun seseorang itu tidak mendengar khutbah. Imam Ahmad
berkata: “Berbicara itu haram bagi orang yang berdekatan dengan khatib, tetapi tidak bagi orang yang berjauhan dengan khatib.”
Mazhab al-Syafi’i menegaskan berbicara ketika khatib sedang berkhutbah hukumnya makruh tanzih bagi orang yang mendengarnya, sedangkan bagi orang yang tidak mendengarnya tidaklah dimakruhkan. Ketentuan yang telah disebutkan diatas berlaku apabila tidak dalam keadaan darurat yang menuntut seseorang bercakap, misalnya mengingatkan orang lain yang ada kalajengking dan lain-lain
sebagainya yang berbahaya. Tetapi jika ada sesuatu yang menuntut seseorang berbicara, maka hukumnya menjadi wajib misalnya mencegah perbuatan mungkar.
Adakalanya pula berbicara itu disunatkan, misalnya menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, membaca sholawat ke atas Nabi (s.a.w) apabila nama baginda
disebutkan, berdo'a memohon surga dan meminta perlindungan kepada Allah daripada sesuatu yang apabila disebut namanya kita disuruh berbuat demikian.

Adapun khutbah selain khutbah Jum'at, maka tidak seorang ulama pun yang berselisih pendapat bahwa berdiam mendengarkannya adalah disunatkan.
Berbicara ketika imam sedang duduk di atas mimbar atau sedang berada di antara dua khutbah atau sesudah dia menyelesaikan khutbah terakhir dan hendak
memulau pelaksanaan sholat, maka hukumnya diperbolehkan.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT JUM'AT*_

*HADITS KE 24 :*

*وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ: ( دَخَلَ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ, وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ . فَقَالَ: صَلَّيْتَ؟ قَالَ: لَا قَالَ: قُمْ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ*

_Jabir Radliyallaahu 'anhu berkata: Ada seorang laki-laki masuk pada waktu sholat Jum'at di saat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sedang berkhutbah. Maka bertanyalah beliau: "Engkau sudah sholat?" Ia menjawab: Belum. Beliau bersabda: "Berdirilah dan sholatlah dua rakaat." Muttafaq Alaihi._

*MAKNA HADITS :*

```Jabir (r.a) menceritakan suatu peristiwa yang dialami oleh Nabi (s.a.w) ketika baginda sedang menyampaikan khutbah pada hari Jum'at. Ketika Nabi (s.a.w)
dalam keadaan demikian, masuklah seseorang yang dikenali dengan nama Sulaik al-Ghathfani; dia terus duduk dan tidak mengerjakan sholat tahiyyatul masjid. Nabi (s.a.w) menyerunya seraya bersabda: “Sudahkah engkau mengerjakan sholat?” Sulaik menjawab: “Belum.” Maka Nabi (s.a.w) menyuruhnya berdiri dan
mengerjakan sholat dua rakaat sebagai penghormatan terhadap masjid.```

*FIQH HADITS :*

1. Perintah dan larangan yang boleh dilakukan oleh khatib ketika sedang menyampaikan khutbah di samping boleh menjelaskan hukum-hukum yang diperlukan dan ini tidak memutuskan khutbah yang mesti disampaikan secara bersambung, karena semua itu termasuk bagian daripada
khutbah.

2. Disyariatkan mengerjakan sholat dua rakaat bagi orang yang memasuki masjid sebagai menghormatinya. Imam al-Syafi’i berkata: “Mengerjakan
sholat tahiyyatul masjid disyariatkan pada setiap waktu, meskipun ketika khutbah Jum'at sedang disampaikan dan masuk ke dalam masjid secara dilakukan berulang kali.” Beliau mentafsirkan hadis-hadis yang melarang
sholat sesudah fajar hingga matahari terbit, dan sholat sesudah Asar hingga matahari tenggelam hanya khusus bagi sholat yang tidak mempunyai sebab-sebab yang mendahuluinya. Beliau berkata: “Rasulullah
(s.a.w) belum pernah meninggalkan sholat tahiyyatul masjid walau dalam keadaan apapun. Baginda yang ketika itu sedang menyampaikan khutbah malah menyuruh lelaki yang baru masuk ke dalam masjid itu berdiri untuk mengerjakan sholat dua rakaat. Seandainya Rasulullah (s.a.w)
tidak menganggapnya penting, niscaya baginda tidak menyuruh lelaki itu mengerjakan sholat ketika sedang berkhutbah.”

Imam Malik berkata: “Mengerjakan sholat tahiyyatul masjid pada waktu-waktu yang dilarang adalah makruh. Sedangkan ketika khutbah sedang disampaikan, matahari sedang terbit, dan matahari sedang tenggelam, maka hukumnya haram.” Beliau berkata lagi: “Jika seseorang berulang kali
masuk ke dalam masjid, maka mencukupi baginya sholat yang pertama, tetapi dengan syarat dia kembali masuk ke dalam masjid dalam waktu yang tidak terlampau lama mengikuti ukuran tradisi. Jika kembali masuk ke dalam masjid dalam waktu yang lama, maka dia disunatkan mengulangi semula
sholat tahiyyatul masjid itu.”

Imam Abu Hanifah memandang makruh mengerjakan sholat tahiyyatul masjid pada waktu-waktu yang dilarang dan ketika khatib sedang berkhutbah. Solat tahiyyatul masjid tidak boleh dilakukan secara berulang
kali, sekalipun seseorang itu keluar masuk masjid secara berulang kali, tetapi sudah mencukupi baginya melakukannya satu kali dalam sehari.

Imam Ahmad berkata: “Sholat tahiyyatul masjid disunatkan bagi setiap orang yang memasukinya pada waktu-waktu yang tidak dimakruhkan sebelum dia duduk dan dalam keadaan telah bersuci, sekalipun dia memasuki masjid secara berulang kali apabila dia bukan khatib yang masuk ke dalam masjid untuk menyampaikan khutbah, bukan pula orang
yang masuk ke dalamnya untuk mengerjakan sholat hari raya, dan bukan pula pengurus masjid yang berulang kali masuk ke dalamnya.”

Ulama berselisih pendapat dalam waktu sholat tahiyyatul masjid
habis waktunya karena duduk ataupun sebaliknya.

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berkata: “Waktu sholat tahiyyatul masjid masih belum terlewatkan karena duduk, meskipun dalam waktu yang agak lama, tetapi duduk sebelum melakukan sholat tahiyyatul masjid adalah dimakruhkan.” Kedua ulama ini melandaskan pendapatnya kepada hadis ini dimana Rasulullah (s.a.w) menyuruh lelaki tersebut untuk mengerjakan sholat tahiyyatul masjid, padahal lelaki itu sudah duduk.

Imam Ahmad berkata: “Waktu sholat tahiyyatul masjid telah terlewatkan karena duduk dalam waktu yang agak lama, namun tidak demikian apabila seseorang itu duduk dalam waktu yang agak singkat.”

Imam al-Syafi’i mempunyai pendapat yang memperincikan lagi masalah duduk ini. Beliau berkata: “Apabila duduk karena tidak sengaja atau lupa, maka waktu sholat tahiyyatul masjid tidak terlewatkan. Namun apabila duduk karena selain itu, maka waktu sholat terlewatkan.

Menurut Imam Malik, seseorang yang berjalan melewati masjid tidak disunatkan mengerjakan sholat tahiyyatul masjid, sedangkan menurut pendapat jumhur ulama, dia tetap disunatkan untuk mengerjakannya.

3. Ulama bersepakat bahwa masjid merupakan syarat untuk mengerjakan sholat Jum'at mengingat sholat tahiyyatul masjid tidak disyariatkan kecuali di dalam masjid.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT JUM'AT*_

*HADITS KE 25 :*

*وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْجُمُعَةِ سُورَةَ الْجُمُعَةِ, وَالْمُنَافِقِينَ )  رَوَاهُ مُسْلِم ٌ 
وَلَهُ: عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ: ( كَانَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ: بِـ "سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى, وَ: هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ" )*

_Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pada sholat Jum'at biasanya membaca surat al-Jumu'ah dan al-Munafiqun. Diriwayatkan oleh Muslim.
Dalam riwayatnya pula (Muslim) bahwa Nu'man Ibnu Basyir Radliyallaahu 'anhu berkata: Biasanya beliau pada sholat dua 'Id dan Jum'at membaca (Sabbihisma rabbikal a'laa) dan (Hal ataaka haditsul ghoosyiyah)._

*MAKNA HADITS :*

```Rasulullah (s.a.w) sering membaca Surah al-Jumu’ah pada rakaat pertama sholat Subuh setiap hari Jum'at dan pada rakaat yang kedua Surah al-Munafiqun. Baginda melakukan demikian karena di dalam surah pertama yakni Surah al-Jumu’ah itu memuat hukum-hakam yang berkaitan dengan sholat Jum'at dan pujian
kepada kaum mukminin serta menjelaskan keutamaan Rasulullah (s.a.w) yang berperan membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka dan mengajarkan al-Kitab dan Sunnah kepada mereka. Sedangkan di dalam surah kedua yakni
Surah al-Munafiqun memuat celaan bagi kaum munafik karena mereka tidak mau bertaubat dan enggan beriman kepada Rasulullah (s.a.w) supaya baginda
memohonkan ampunan kepada Allah (s.w.t) di atas kesalahan yang mereka lakukan. Nabi (s.a.w) seringkali membaca Surah al-A’la dan Surah al-Ghasyiyah ketika
mengerjakan sholat Jum'at mengingat kedua surah itu memuatkan ilmu, kebaikan, mengingatkan kepada keadaan akhirat dan janji serta ancaman Allah (s.w.t).```

*FIQH HADITS :*

1. Disunatkan membaca Surah al-Jumu’ah pada rakaat pertama sholat Subuh pada hari Jum'at mengingat di dalam surah al-Jumu’ah itu terkandung
anjuran untuk berzikir mengingati Allah.

2. Disunatkan membaca Surah al-Munafiqun pada rakaat kedua sholat Subuh pada hari Jum'at mengingat di dalamnya terkandung pelajaran-pelajaran penting, terutama sekali yang terdapat di dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ (٩)

“Hai orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu membuat kamu lalai daripada mengingat Allah…” (Surah al-Munafiqun: 9)

3. Disunatkan membaca Surah al-A’la dan al-Ghasyiyah pada sholat dua hari raya dan hari Jum'at memandangkan di dalam kedua surat itu terkandung keadaan atau peristiwa hari akhirat.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT JUM'AT*_

*HADITS KE 26 :*

*وَعَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رضي الله عنه قَالَ: ( صَلَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْعِيدَ, ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ, فَقَالَ: "مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ" )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا التِّرْمِذِيَّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَة*

_Zaid Ibnu Arqom Radliyallaahu 'anhu berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sholat 'Id, kemudian beliau memberi keringanan untuk sholat Jum'at, lalu bersabda: "Barangsiapa hendak sholat, sholatlah." Riwayat Imam Lima kecuali Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah._

*MAKNA HADITS :*

```Agama itu mudah dan antara kemudahannya ialah adanya rukhsah dengan tujuan tidak memberatkan umat manusia ketika melaksanakan ‘azimah. Misalnya, jika dalam satu hari itu bertemu dua hari raya, yaitu hari raya pada hari Jum'at, maka Islam memberikan rukhsah bagi orang yang telah mengerjakan sholat hari raya cukup hanya mengerjakan sholat Dzuhur di rumahnya pada hari itu dan tidak wajib baginya keluar untuk mengerjakan sholat Jum'at. Demikian menurut mazhab Imam Ahmad. Tetapi menurut jumhur ulama, sholat Jum'at tetap diwajibkan, karena dalil yang mewajibkannya bersifat umum. Sedangkan hadis-hadis mengenai hal ini masih belum cukup kuat untuk mentakhsisnya mengingat sanadnya masih diperselisihkan dan ini dapat pula ditafsirkan sebagai sesuatu yang khusus bagi Nabi (s.a.w) saja.```

*FIQH HADITS :*

Boleh mengerjakan sholat Jum'at atau meninggalkannya bagi orang yang telah mengerjakan sholat hari raya pada hari itu.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT JUM'AT*_

*HADITS KE 27 :*

*وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا )  رَوَاهُ مُسْلِم ٌ*

_Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila seorang di antara kamu sholat Jum'at, hendaknya ia sholat setelah itu empat rakaat." Riwayat Muslim._

*MAKNA HADITS :*

```Disyariatkan mengerjakan sholat sunat ba’diyyah setelah mengerjakan sholat Jum'at sebanyak empat rakaat. Perintah dalam hadis ini menunjukkan hukum sunat. Bimbingan Nabi (s.a.w) dalam masalah ini ialah apabila mengerjakannya di dalam masjid, maka baginda mengerjakannya sebanyak empat rakaat. Jika mengerjakannya di dalam rumah, maka baginda mengerjakannya sebanyak dua rakaat. Hikmah disyariatkan mengerjakan sholat sunat ba’diyah Jum'at ini ialah untuk menutupi kekurangan yang terjadi di dalamnya.```

*FIQH HADITS :*

Disunatkan mengerjakan sholat sunat ba’diyah setelah sholat Jum'at dan dianjurkan
agar sholat sunat ini dikerjakan dengan jumlah rakaat yang maksimum sebanyak
empat rakaat dan jumlah minimum pula dua rakaat.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT JUM'AT*_

*HADITS KE 28 :*

*وَعَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ, أَنَّ مُعَاوِيَةَ قَالَ لَهُ: ( إِذَا صَلَّيْتَ الْجُمُعَةَ فَلَا تَصِلْهَا بِصَلَاةٍ, حَتَّى تُكَلَّمَ أَوْ تَخْرُجَ, فَإِنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمَرَنَا بِذَلِكَ: أَنْ لَا نُوصِلَ صَلَاةً بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ )  رَوَاهُ مُسْلِم ٌ*

_Dari Saib Ibnu Yazid Radliyallaahu 'anhu bahwa Muawiyah Radliyallaahu 'anhu pernah berkata kepadanya: Jika engkau telah sholat Jum'at maka janganlah engkau menyambungnya dengan sholat lain hingga engkau berbicara atau keluar, karena Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kami demikian, yakni: Janganlah kita menyambung suatu sholat dengan sholat lain sehingga kita berbicara atau keluar. Riwayat Muslim._

*MAKNA HADITS :*

```Islam merasa kawatir terhadap orang awam kalau mereka mengalami kebingungan dalam masalah ibadah hingga mereka meyakini sunat sebagai fardu.
Oleh itu, di sini ditetapkan beberapa kaidah dalam masalah ibadah dengan tujuan membuang dakwaan dan keraguan itu. Misalnya, Islam melarang dari terus menyambung secara langsung pelaksanaan sholat fardu dengan sholat sunat, agar keduanya dapat dibedakan. Untuk merealisasikan tujuan ini, imam disyariatkan
berpindah tempat dari tempat asal setelah melakukan sgolat fardu ke tempat lain untuk menunaikan sholat sunat seperti mengerjakan sholat sunat di dalam rumahnya
atau di tempat selain tempat dia mengerjakan sholat fardu.```

*FIQH HADITS :*

Disunatkan memisahkan antara sholat sunat dengan sholat fardu baik dengan cara berbicara atau berpindah ke tempat lain di dalam masjid itu supaya tempat yang
dijadikan sebagai tempat sujud menjadi banyak sekaligus bertujuan membedakan
antara sholat sunat dengan sholat fardu. Adalah diutamakan bahwa seseorang hendaklah kembali pulang ke rumahnya untuk mengerjakan sholat sunat, karena
ada anjuran yang menyuruh berbuat demikian.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT JUM'AT*_

*HADITS KE 29 :*

*وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( مَنِ اغْتَسَلَ, ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ, فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ, ثُمَّ أَنْصَتَ, حَتَّى يَفْرُغَ الْإِمَامُ مِنْ خُطْبَتِهِ, ثُمَّ يُصَلِّي مَعَهُ: غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى, وَفَضْلُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ )  رَوَاهُ مُسْلِم ٌ*

_Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa mandi kemudian mendatangi sholat Jum'at, lalu sholat semampunya, kemudian diam sampai sang imam selesai dari khutbahnya, kemudian sholat bersama imam, maka diampuni dosa-dosanya antara Jum'at itu dan Jum'at berikutnya serta tiga hari setelahnya." Riwayat Muslim._

*MAKNA HADITS :*

```Nabi (s.a.w) menjelaskan keutamaan sholat Jum'at bahwa menunaikan sholat Jum'at berikut etikanya merupakan antara faktor yang menyebabkan seseorang
itu diampuni dosanya. Oleh itu, seseorang yang hendak memohon ampun kepada Allah dianjurkan mandi terlebih dahulu, lalu segera berangkat ke masjid dan mendengarkan khutbah dengan penuh khusyuk, mengambil tempat duduk yang berdekatan dengan imam dan mengerjakan sholat sunat semampunya agar
memperoleh pahala yang berlimpah. Jika tidak melaksanakan salah satu daripada
perkara di atas, maka berarti dia tidak memperoleh bagian yang paling besar dari ampunan Allah.

Di dalam hadis ini disebutkan tambahan tiga hari dalam memperoleh ampunan di samping yang tujuh hari dan tidak lain untuk merealisasikan janji Allah (s.w.t) yang telah menetapkan bahwa barang siapa yang mengerjakan suatu amal kebaikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipat kebaikan.```

*FIQH HADITS :*

1. Menjelaskan tentang keutamaan mandi ketika hendak mengerjakan sholat Jum'at.

2. Disunatkan mengerjakan sholat sebanyak mungkin sebelum
khutbah dimulai.

3. Dianjurkan diam ketika khatib sedang berkhutbah.

4. Orang yang mengerjakan sholat Jum'at diberi ampunan selama seminggu, yakni sejak sholat Jum'at yang sedang dia kerjakan hingga sholat Jum'at yang
berikutnya, ditambah lagi tiga hari.

5. Pahala dan keutamaan sholat Jum'at dilipatgandakan, karena sholat yang lainnya hanya dapat menghapus dosa-dosa di antara dua sholat saja.

6. Haram berbicara pada waktu khutbah sedang disampaikan, bukan sesudahnya.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..
*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*

*بسم الله الرحمن الرحيم*

*KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

*《JILID KE II (DUA)》*

_*BAB SHALAT JUM'AT*_

*HADITS KE 30 :*

*وَعَنْهُ; أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ: ( فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي, يَسْأَلُ الله تعالى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه. ِ وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: ( وَهِيَ سَاعَةٌ خَفِيفَةٌ )*

_Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam setelah menyebut hari Jum'at beliau bersabda: "Pada hari itu ada suatu saat jika bertepatan seorang hamba muslim berdiri untuk sholat memohon kepada Allah, maka niscaya Allah akan memberikannya sesuatu." Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya bahwa saat itu sebentar. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat Muslim: "Ia adalah saat yang pendek."_

*HADITS KE 31 :*

*وَعَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ سَمِعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ( هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ, وَرَجَّحَ الدَّارَقُطْنِيُّ أَنَّهُ مِنْ قَوْلِ أَبِي بُرْدَةَ. وفي حديث عبد الله ابن سلام عند ابن ماجة، وجابر عند أبي دود والنسائي: أنها ما بين صلاة العصر الى غروب الشمس. وقد اختلف فيها أكثر من أربعين قولا، أمليتها في شرح البخاري*

_Abu Burdah dari ayahnya Radliyallaahu 'anhu berkata: "Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Saat (waktu) itu ialah antara duduknya imam hingga dilaksanakannya sholat." Riwayat Muslim. Daruquthni menguatkan bahwa hadits tersebut dari perkataan Abu Burdah sendiri.

Dalam hadis Abdullah ibn Salam yang ada pada Ibn Majah dan dalam hadis Jabir yang ada pada Abu Dawud dan al-Nasa’i disebutkan seperti berikut bahwa
saat (mustajab) tersebut terletak di antara sholat Asar hingga matahari terbenam. Lebih empat puluh pendapat yang memperdebatkan waktu saat (do'a mustajab)
ini. Semua itu kami uraikan dalam kitab Syarh al-Bukhari.

*MAKNA HADITS :*

```Hari Jum'at mempunyai beberapa keistimewaan yang antara lain ialah sa’ah al-
mubarakah (waktu yang penuh dengan keberkahan). Pada waktu itu do'a dikabulkan selagi tidak  melakukan dosa atau memutuskan ikatan silaturahim. Waktu
ini amatlah singkat dimana Nabi (s.a.w) menganjurkan agar ia diberi perhatian mengingat waktunya yang sempit itu.

Ulama berselisih pendapat mengenai ketentuannya, hingga ada empat puluh tiga pendapat yang membahas masalah ini. Tetapi menurut pendapat yang sahih,
waktu tersebut masih belum dapat dipastikan, namun waktu antara sholat Asar hingga matahari tenggelam merupakan waktu yang paling diharapkan supaya do'a
dikabulkan. Ada pula kemungkinan bahwa waktu ituberpindah-pindah, tetapi itu masih berlaku pada hari Jum'at. Hikmah merahasiakan waktu mustajab do'a ini
ialah supaya seluruh hari Jum'at diisi dengan dengan ibadah.```

*FIQH HADITS :*

1. Keutamaan hari Jum'at adalah adanya sa’ah al-ijabah dimana pada waktu do'a dikabulkan.

2. Boleh menggunakan isyarat untuk mengungkapkan isi hati sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang Arab dalam pembicaraan mereka.

3. Menentukan sa’ah al-ijabah pada hari Jum'at yaitu antara imam mulai duduk di atas mimbar hingga dia selesai mengerjakan sholat Jum'at. Menurut hadis Abdullah ibn Salam (r.a), ia terletak pada akhir siang hari, sedangkan menurut hadis Jabir (r.a), ia terletak antara sholat Asar hingga matahari
terbenam.

4. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah (s.a.w) membenarkan kitab-kitab suci yang terdahulu.

```Wallahu a'lam bisshowab..```

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..